Ayah Pilot Air India Bertekad Bela Nama Baik Putranya Jelang Rilis Hasil Investigasi
Baca dalam 60 detik
- Pushkar Raj Sabharwal, ayah pilot senior Air India yang tewas dalam kecelakaan 2025, berjanji terus membela reputasi putranya di tengah spekulasi media.
- Laporan awal AAIB menemukan sakelar bahan bakar mesin berpindah ke posisi 'cut-off' sesaat setelah lepas landas, namun penyebab pasti belum diketahui.
- Keluarga korban dan pakar penerbangan menanti pembaruan investigasi yang dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan.

Pushkar Raj Sabharwal, seorang pria berusia 90-an tahun, masih menyimpan harapan untuk membersihkan nama putranya yang menjadi kapten dalam kecelakaan pesawat Air India tahun lalu. Jelang rilis temuan terbaru penyidik, ia menyatakan akan terus memperjuangkan reputasi sang anak yang telah tiada.
Kecelakaan nahas terjadi pada 12 Juni 2025, ketika Boeing 787 Dreamliner tujuan London jatuh beberapa detik setelah lepas landas dari Ahmedabad, India barat. Musibah itu menewaskan sedikitnya 260 orang, termasuk 241 penumpang dan awak pesawat. Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih menjadi misteri.
Laporan pendahuluan dari Badan Investigasi Kecelakaan Penerbangan India (AAIB) pada Juli 2025 mengungkapkan bahwa sakelar kontrol bahan bakar kedua mesin berpindah dari posisi "run" ke "cut-off" tak lama setelah lepas landas, menyebabkan mesin kehilangan pasokan bahan bakar. Rekaman kokpit menangkap percakapan antara pilot, di mana salah satu bertanya mengapa yang lain mematikan aliran, namun tidak ada yang mengaku. Investigasi belum menunjuk siapa yang bertanggung jawab.
Spekulasi media internasional, termasuk laporan Reuters dan The Wall Street Journal, menyebutkan bahwa fokus penyelidikan bergeser ke Kapten Sumeet Sabharwal, pilot senior yang saat kejadian bertugas memonitor. Hal ini memicu reaksi keras dari asosiasi pilot India dan kritik dari AAIB yang menyebut pemberitaan tersebut "selektif dan tidak terverifikasi".
Bagi Pushkar Raj, yang merupakan pensiunan petugas keselamatan penerbangan, tuduhan terhadap putranya sangat menyakitkan. "Setiap kali terjadi kecelakaan, pilot selalu disalahkan. Itu cara termudah untuk menutup babak. Dia sudah tiada dan tidak bisa membela diri," ujarnya kepada BBC. Sang putra, yang digambarkan sebagai pribadi lembut dan berbakti, berencana pensiun untuk merawat ayahnya.
Kisah ini mengingatkan pada pentingnya transparansi investigasi kecelakaan penerbangan, terutama di tengah tekanan publik dan pemberitaan yang belum tuntas. Di Indonesia, kasus serupa seperti kecelakaan Lion Air JT 610 pada 2018 juga menyoroti betapa krusialnya proses investigasi yang independen dan bebas dari spekulasi. Masyarakat penerbangan Indonesia tentu berharap agar temuan akhir AAIB nantinya dapat menjawab semua pertanyaan dan memberikan keadilan bagi para korban.
Pushkar Raj kini menjalani hari-harinya dengan rutinitas sederhana, ditemani putri dan cucunya yang pindah dari Delhi ke Mumbai. Ia mengaku sulit melupakan putranya, namun berusaha tabah. "Jika saya ingin tetap hidup dan tenang, saya harus melupakan—mencoba melupakan—yang tidak mungkin," katanya lirih.
Pertanyaan besar masih menggantung: akankah hasil investigasi akhir mengonfirmasi spekulasi media, atau justru membuka fakta baru yang mengubah arah kasus? Keluarga korban dan dunia penerbangan menanti dengan cemas.



