Speedboat Hilang di Gorontalo, 13 Orang Termasuk 11 Turis Asing Dicari
Baca dalam 60 detik
- Kapal cepat bermuatan 13 orang dilaporkan putus komunikasi sejak Jumat pagi di Teluk Tomini, memperpanjang daftar kecelakaan laut di Indonesia timur.
- Pencarian sempat terhenti akibat cuaca buruk, kini KN SAR Bhisma dikerahkan dengan perkiraan tiba malam ini di lokasi.
- Basarnas memperkirakan speedboat telah menempuh separuh perjalanan 40 mil laut saat kontak terputus.

Tim SAR gabungan hingga Sabtu (25/7) masih menyisir perairan Teluk Tomini, Gorontalo, untuk mencari speedboat yang hilang kontak sejak Jumat pagi. Kapal cepat itu membawa 11 wisatawan asing dan dua anak buah kapal (ABK) yang belum diketahui nasibnya.
Speedboat berangkat dari Tojo Una-una, Sulawesi Tengah, pada pukul 07.30 WITA menuju Pelabuhan Marisa, Pohuwato, Gorontalo. Perjalanan yang diperkirakan hanya memakan waktu 3,5 jam itu tak kunjung tiba hingga pukul 15.00 WITA. Kepala Basarnas Gorontalo, Heriyanto, menyebut kapal diperkirakan telah menempuh sekitar 20 nautical mile dari titik keberangkatan saat kontak terakhir.
Cuaca buruk menjadi kendala awal. Tim SAR terpaksa menunda operasi Jumat malam, lalu melanjutkannya Sabtu pagi dengan mengerahkan KN SAR Bhisma yang membawa personel dari Pos SAR Luwuk. Kapal SAR itu diperkirakan tiba di lokasi sekitar pukul 19.40 WITA, memperpanjang masa kritis pencarian di perairan yang rawan gelombang tinggi.
Kecelakaan ini kembali menyoroti risiko transportasi laut di Indonesia timur, terutama saat musim angin barat yang kerap memicu gelombang tinggi. Gorontalo termasuk daerah dengan catatan kecelakaan pelayaran cukup tinggi. Selain itu, nasib 11 wisman asal Belgia dan Perancis—termasuk anak-anak—menjadi perhatian, mengingat sektor pariwisata daerah baru pulih pasca-pandemi.
Heriyanto menjelaskan, speedboat diperkirakan sudah berada di tengah lintasan saat kontak putus. “Kita perkirakan kapal itu sudah berlayar sekitar 20 nautical mile dari Kabupaten Tojo Una-una,” ujarnya, Jumat (24/7). Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu, daya tahan kapal dan penumpang di laut lepas selama lebih dari 24 jam menjadi kekhawatiran utama.
Pertanyaan besarnya, apakah kehadiran KN SAR Bhisma tepat waktu? Tim SAR optimistis, namun waktu tempuh kapal bantu yang mencapai 10 jam membuat celah risiko semakin besar. Masyarakat dan keluarga korban menanti kabar pasti; Basarnas berjanji memperbarui perkembangan secara berkala. Kasus ini sekaligus menjadi ujian bagi protokol keselamatan pelayaran wisata di perairan timur Indonesia.



