Purbaya Bantah Tuduhan Bohong Soal Rating Panda Bond: Penerbitan CNY 7 Miliar Terserap 2,4 Kali Lipat
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah berhasil menerbitkan Panda Bond perdana senilai CNY 7 miliar dengan kelebihan permintaan 2,4 kali.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis tuduhan tidak jujur terkait peringkat AAA obligasi renminbi tersebut.
- Obligasi tenor 3 dan 5 tahun menawarkan imbal hasil rendah, memperkuat alternatif pembiayaan di luar dolar AS.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas membantah tuduhan bahwa dirinya menyembunyikan fakta di balik peringkat AAA/Stable yang disematkan pada Panda Bond Indonesia. Dalam pertemuan dengan wartawan di Gedung Juanda, Jakarta, Jumat (24/7/2026), ia mengaku mendengar suara miring yang meragukan kredibilitas rating tersebut. “(Peringkat) AAA kan, rata kanan. Ada yang bilang saya bohong,” ujarnya, menandaskan bahwa semua data telah diverifikasi lembaga pemeringkat internasional.
Pernyataan itu muncul sehari setelah pemerintah merampungkan penerbitan perdana surat utang global berdenominasi yuan atau Panda Bond, Kamis (23/7/2026). Dalam aksi korporasi ini, Indonesia melepas obligasi senilai CNY 7 miliar, setara dengan sekitar Rp18,58 triliun (kurs Rp2.655/CNY) atau US$1 miliar. Jumlah tersebut terbagi dalam dua seri: tenor tiga tahun sebesar CNY 5,6 miliar dan tenor lima tahun senilai CNY 1,4 miliar.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, mengungkapkan bahwa antusiasme investor sangat tinggi. Catatan otoritas fiskal menunjukkan order book membengkak hingga CNY 17 miliar, atau sekitar Rp45,23 triliun. “Oversubscribed 2,4 kali. Order book mencapai CNY 17 miliar,” jelas Suminto. Rinciannya, permintaan untuk seri 3 tahun mencapai CNY 12,38 miliar dengan bid-to-cover ratio 2,2 kali, sedangkan seri 5 tahun sebesar CNY 4,62 miliar dengan rasio 3,3 kali.
Bagi investor Indonesia, langkah ini memiliki arti strategis. Dengan imbal hasil yang sangat kompetitif—1,90% dan 2,19%—Panda Bond menawarkan alternatif pembiayaan di luar dominasi dolar AS. Penerbitan ini juga menjadi sinyal kepercayaan pasar China terhadap fundamental ekonomi Indonesia di tengah tekanan global. Sebagian kalangan menilai, rating AAA yang diraih membuktikan bahwa risiko kredit Indonesia dinilai sangat rendah oleh lembaga rating internasional, sehingga membuka pintu bagi penerbitan serupa di masa depan.
Respons Purbaya terhadap tuduhan kebohongan mencerminkan sensitivitas isu rating di kalangan investor. Ia menekankan bahwa proses pemeringkatan berjalan transparan dan melibatkan otoritas keuangan China. “Tidak ada yang ditutup-tutupi,” tegasnya. Pernyataan ini penting untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar, terutama mengingat Panda Bond merupakan instrumen baru bagi pasar domestik.
Ke depan, pemerintah perlu mengelola persepsi publik dan investor agar stigma negatif tidak mengganggu rencana diversifikasi sumber pembiayaan. Apakah keberhasilan perdana ini akan diikuti oleh penerbitan berkala dengan volume lebih besar? Atau akankah perdebatan soal rating menjadi hambatan tersembunyi? Jawabannya akan menentukan arah strategi utang Indonesia di kawasan Asia Timur.



