Lando Norris: F1 Terlalu Berorientasi Bisnis, Esensi Olahraga Tergerus
Baca dalam 60 detik
- Pembalap McLaren, Lando Norris, menilai Formula 1 saat ini lebih mementingkan keuntungan finansial daripada kualitas kompetisi di lintasan.
- Regulasi baru yang memungkinkan masuknya Audi membuat mobil melambat, memicu ketidakpuasan di kalangan pembalap yang merasa suara mereka diabaikan.
- F1 disebut berpotensi kehilangan penggemar sejati karena pergeseran fokus ke personalitas pembalap, bukan aksi balapan itu sendiri.

Juara dunia Formula 1 asal Inggris, Lando Norris, melontarkan kritik tajam terhadap arah pengelolaan ajang balap mobil paling bergengsi di dunia. Menurutnya, Formula 1 telah terlampau larut dalam pertimbangan bisnis sehingga melupakan jati dirinya sebagai sebuah olahraga. Pernyataan itu disampaikan Norris menjelang Grand Prix Hongaria di Budapest, merespons keputusan regulasi yang dinilai lebih mengakomodasi kepentingan korporasi ketimbang performa pembalap.
Norris secara spesifik menyoroti perubahan aturan yang memungkinkan pabrikan seperti Audi masuk ke F1 musim ini. Audi menggantikan tim Sauber setelah diyakinkan oleh regulasi yang meningkatkan porsi tenaga listrik pada unit daya hingga hampir setara dengan mesin pembakaran internal. Meskipun aturan itu direvisi untuk mengurangi kontribusi listrik pada 2027, Norris menilai kerusakan telah terjadi. "Ini soal uang. Semua orang ingin menghasilkan uang, sehingga demi menarik Audi dan tim lain, kami harus mengubah hal-hal yang seharusnya tidak perlu diubah. Sungguh memalukan," ujar pembalap berusia 26 tahun itu, seperti dikutip dari media Inggris.
Pembalap yang mengendarai mobil bertenaga Mercedes itu mengakui Formula 1 tetaplah ajang hebat, tetapi bisa jauh lebih baik. Sayangnya, menurut Norris, federasi dan pemilik hak komersial—Liberty Media—terlalu fokus pada maksimalisasi pendapatan. "Pertanyaannya bukan 'bagaimana membuat olahraga ini sebaik mungkin?', melainkan 'bagaimana menghasilkan uang sebanyak-banyaknya?'. Itu bukan cara menjalankan olahraga sejati," tegasnya.
Kritik Norris juga menyasar pergeseran basis penggemar yang dipicu oleh serial Netflix "Drive to Survive". Ia menilai penggemar baru cenderung lebih tertarik pada personalitas pembalap daripada jalannya balapan. "Dulu orang menonton karena balapannya, sekarang lebih ke 'siapa yang menang atau kalah?'. Itu sah-sah saja, tetapi suara terbesar seharusnya tetap dari kami pembalap. Kamilah yang paling paham bagaimana balapan seharusnya," imbuh Norris.
Menanggapi pernyataan tersebut, juru bicara Formula 1 menyatakan bahwa masukan pembalap justru lebih didengar dari sebelumnya. "Olahraga di lintasan tetap menjadi prioritas utama. Semua pihak, termasuk pembalap, diuntungkan oleh kesuksesan komersial F1. Keputusan dibuat untuk hasil strategis terbaik bagi penggemar, tim, dan mitra," jelas sang juru bicara.
Konteks Indonesia: Meski Indonesia belum menjadi tuan rumah Grand Prix, jumlah penggemar F1 Tanah Air terus meningkat, didorong oleh kemudahan akses siaran dan konten digital. Jika tren komersialisasi berlebihan berlanjut, tidak menutup kemungkinan antusiasme penggemar yang mencintai sisi teknis balapan justru meredup. Di sisi lain, masuknya produsen seperti Audi membuka peluang bagi industri otomotif nasional untuk belajar dari teknologi hybrid yang diadopsi F1, meski perlu diimbangi dengan regulasi yang ramah terhadap atmosfer kompetisi.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah: mampukah Formula 1 mempertahankan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan esensi olahraga? Dengan jadwal balapan yang semakin padat dan tekanan dari pemilik hak siar, suara pembalap seperti Norris mungkin menjadi alarm yang patut didengar sebelum F1 benar-benar kehilangan jiwa kompetitifnya.



