Christian Eriksen Kembali Kolaps: Cara Kerja ICD, Alat yang Menyelamatkan Nyawa Pemain Bola
Baca dalam 60 detik
- Pemain timnas Denmark Christian Eriksen pingsan saat laga persahabatan, namun ICD yang ditanam di dadanya sejak 2021 berhasil menyelamatkan nyawanya.
- ICD adalah alat pacu jantung mini yang memonitor irama jantung dan memberikan kejutan listrik jika terjadi aritmia berbahaya, mirip airbag pada mobil.
- Di Indonesia, kasus henti jantung mendadak pada atlet masih jarang terdeteksi, sehingga edukasi tentang ICD dan skrining kardiovaskular menjadi krusial.

Christian Eriksen kembali menjadi sorotan setelah pingsan di lapangan hijau dalam laga persahabatan baru-baru ini. Namun, berbeda dengan insiden di Euro 2020 yang membuatnya harus menjalani resusitasi darurat, kali ini pemain Denmark itu mampu berjalan keluar lapangan setelah sadar. Semua berkat alat kecil bernama implantable cardioverter defibrillator (ICD) yang ditanam di dadanya sejak 2021.
ICD adalah perangkat elektronik seukuran kotak korek api yang ditanam di bawah tulang selangka dan terhubung ke jantung melalui kabel tipis. Fungsinya mirip airbag pada mobil: tidak mencegah kecelakaan, tapi memberikan perlindungan saat terjadi gangguan irama jantung yang mengancam jiwa. Ketika mendeteksi aritmia berbahaya, ICD dapat mengirimkan impuls listrik ringan atau kejutan kuat dalam hitungan detik untuk mengembalikan irama normal.
Meski efektif, ICD bukanlah jaminan mutlak. Seperti yang diungkapkan para ahli, perangkat ini tidak menghentikan gangguan irama jantung, hanya merespons saat gangguan terjadi. Pasien tetap bisa mengalami pusing, sesak napas, atau bahkan pingsan sesaat sebelum alat bekerja. Hal ini karena aliran darah ke otak bisa turun drastis sebelum ICD memberikan terapi.
Bagi atlet seperti Eriksen, tantangan lebih besar muncul saat berolahraga intens. Detak jantung yang sangat cepat saat latihan berat bisa membuat ICD kesulitan membedakan antara aktivitas normal dan aritmia. Oleh karena itu, pemantauan rutin oleh dokter spesialis jantung menjadi keharusan. Dokter akan memeriksa rekaman alat, menyesuaikan pengaturan, dan mencari pemicu seperti dehidrasi atau perubahan obat.
Di Indonesia, kesadaran akan pentingnya skrining jantung pada atlet masih rendah. Padahal, kasus henti jantung mendadak pada pemain sepak bola atau pelari maraton kerap terjadi tanpa peringatan. Dokter spesialis jantung dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menekankan bahwa ICD bukanlah solusi tunggal. "ICD adalah lapisan perlindungan, bukan penyembuh. Pasien tetap perlu mengelola penyakit dasarnya dan menjalani gaya hidup sehat," ujar seorang kardiolog yang enggan disebut namanya.
Kejadian pada Eriksen menjadi pengingat bahwa teknologi medis memang bisa menyelamatkan nyawa, tetapi tidak membuat seseorang kebal terhadap risiko. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah Indonesia siap dengan infrastruktur dan edukasi yang memadai untuk mencegah kematian mendadak pada atlet dan masyarakat umum? Jawabannya masih perlu diupayakan bersama.



