Ledakan Overdosis Vitamin A pada Anak di AS: Misinformasi Campak Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Kasus overdosis vitamin A pada anak di AS melonjak 38,7% pada kuartal pertama 2025, bertepatan dengan wabah campak dan klaim keliru bahwa vitamin tersebut dapat mencegah atau mengobati penyakit itu.
- Peneliti menghubungkan lonjakan ini dengan promosi vitamin A oleh tokoh publik dan media sosial, yang mendorong orang tua memberikan dosis sangat tinggi tanpa pengawasan medis.
- Di Indonesia, risiko serupa mengintai jika klaim serupa menyebar; edukasi tentang batas aman konsumsi vitamin A dan bahaya toksisitas menjadi krusial.

Kasus overdosis vitamin A pada anak-anak di Amerika Serikat melonjak drastis pada awal 2025, dengan peningkatan 38,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data dari America's Poison Centers mencatat 86 kasus paparan berlebih vitamin A pada anak hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini—sebuah angka yang mengkhawatirkan mengingat suplemen ini umumnya dianggap aman.
Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan wabah campak yang melanda 45 wilayah di AS pada 2025, di mana tercatat 2.288 kasus, 93% di antaranya menimpa individu yang tidak divaksinasi MMR atau status vaksinasinya tidak tercatat. Dalam surat penelitian yang diterbitkan di JAMA Network Open, tim dari Boston Children's Hospital, Harvard Medical School, UC Berkeley, dan Brigham Young University menduga kuat bahwa misinformasi seputar vitamin A sebagai "obat alami" campak menjadi pemicu utama.
Para peneliti menyoroti peran tokoh publik dan figur terkenal di podcast populer yang mengklaim vitamin A dan minyak hati ikan kod dapat mengobati campak. Klaim ini, meski tidak berdasar, mendorong orang tua memberikan suplemen dalam dosis sangat tinggi kepada anak-anak mereka. Analisis tren pencarian Google menunjukkan pencarian "vitamin A campak" melonjak 7,5 poin persentase di atas rata-rata, sementara "minyak hati ikan kod campak" naik 1,3 poin persentase, seiring dengan meningkatnya liputan media dan unggahan media sosial.
Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hanya merekomendasikan suplementasi vitamin A pada anak yang sudah terinfeksi campak dan terbukti mengalami defisiensi vitamin A—bukan untuk pencegahan. Dua pakar gizi yang diwawancarai Medical News Today, David Cutler dan Michelle Routhenstein, menegaskan bahwa vitamin A tidak mencegah campak. "Vitamin A tidak mencegah campak. Dalam kasus tertentu, ketika anak kekurangan vitamin A, dokter mungkin meresepkannya pada anak yang sudah terkena campak untuk mengurangi keparahan dan risiko komplikasi. Namun, vitamin A tidak mencegah seseorang tertular campak sejak awal," tegas Routhenstein.
Cutler menambahkan bahwa vitamin A larut dalam lemak dan dapat menumpuk di tubuh, sehingga risiko toksisitas nyata. "Jika kadar vitamin A Anda sudah cukup, tidak ada manfaat dari suplementasi, hanya risiko," ujarnya. Gejala overdosis akut meliputi mual, muntah, sakit kepala, dan penglihatan kabur, sedangkan konsumsi berlebih kronis dapat menyebabkan kerusakan hati, rambut rontok, nyeri tulang, bahkan cacat lahir jika dikonsumsi ibu hamil tanpa pengawasan medis.
Di Indonesia, kekhawatiran serupa muncul mengingat mudahnya akses terhadap suplemen vitamin A dan maraknya informasi kesehatan yang belum terverifikasi di media sosial. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menetapkan batas maksimum konsumsi vitamin A dari suplemen, namun kesadaran masyarakat akan bahaya overdosis masih rendah. Kasus di AS menjadi pengingat bahwa klaim kesehatan yang viral—terutama yang melibatkan tokoh publik—dapat mendorong perilaku berisiko, termasuk pada anak-anak.
Routhenstein menekankan bahwa kebanyakan orang yang menjalani pola makan beragam sudah mendapatkan cukup vitamin A dari makanan. Sumber alami terbaik meliputi hati, telur, sayuran hijau gelap, wortel, ubi jalar, labu, mangga, dan blewah. "Bagi kebanyakan orang, fokus pada buah dan sayuran berwarna adalah cara teraman untuk memenuhi kebutuhan vitamin A tanpa mendekati tingkat toksik," katanya. Ia juga menyarankan untuk mengonsumsi makanan nabati bersama lemak sehat guna optimalkan penyerapan.
Ke depan, para ahli mengingatkan bahwa edukasi publik tentang perbedaan antara suplementasi medis dan konsumsi berlebihan harus diperkuat. Pertanyaan yang mengemuka: akankah otoritas kesehatan Indonesia lebih proaktif mengklarifikasi klaim viral tentang vitamin A sebelum terjadi lonjakan kasus overdosis serupa?



