Dari Depresi ke Final Grand Slam: Perjalanan 18 Tahun Maja Chwalinska di Prancis Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Petenis Polandia peringkat 114 dunia, Maja Chwalinska, harus puas sebagai runner-up Prancis Terbuka 2026 setelah dikalahkan Mirra Andreeva.
- Perjalanannya ke final merupakan puncak kerja keras 18 tahun, termasuk mengatasi depresi yang sempat membuatnya mundur dari tenis pada 2021.
- Kenaikan peringkat ke-21 dunia dan hadiah $1,61 juta menjadi titik balik kariernya, namun ia memilih istirahat ketimbang berburu poin di rumput.
Maja Chwalinska, petenis Polandia yang memulai Prancis Terbuka dari babak kualifikasi, harus mengakui keunggulan Mirra Andreeva di partai puncak, Sabtu (6/6). Namun, kekalahan 6-3, 6-2 itu tak mengurangi arti perjalanannya: sebuah bukti bahwa kerja keras selama 18 tahun dan perjuangan melawan depresi akhirnya membuahkan hasil di panggung terbesar tenis dunia.
Petenis berusia 24 tahun itu mengaku bahwa pencapaiannya bukanlah kejutan instan, melainkan akumulasi dari ketekunan dan kesabaran. "Hidup memang aneh, Anda hanya perlu melakukan hal sendiri dan percaya bahwa suatu hari semuanya akan berhasil," ujarnya kepada wartawan di Paris. Chwalinska, yang sebelumnya berada di peringkat 114 dunia, sukses mengalahkan sejumlah lawan yang lebih diunggulkan meski ia mengaku tidak dalam performa terbaik.
Yang membuat kisah Chwalinska begitu inspiratif adalah latar belakangnya. Pada 2021, ia mengaku berjuang melawan depresi selama lebih dari 18 bulan dan sempat menjauh dari lapangan. "Tenis adalah olahraga yang sangat berat. Kami memulainya sejak kecil, masih remaja, tapi orang-orang sudah mengharapkan kami bersikap seperti dewasa. Tekanannya luar biasa karena setiap pertandingan kami terekspos, orang bisa menghakimi, dan di era internet ini siapa pun bisa menulis apa saja," tuturnya.
Setelah tampil gemilang di Roland Garros, Chwalinska diperkirakan akan melesat ke peringkat 21 dunia. Namun, ia memilih untuk beristirahat ketimbang mencari pengalaman di lapangan rumput menjelang Wimbledon. Ia bahkan mengaku sudah merencanakan liburan sejak sebelum turnamen dimulai. "Saya butuh liburan setelah Prancis Terbuka. Tiga minggu ini saya tidak menunggu, karena saya sudah tahu di kepala saya bahwa saya akan pergi berlibur setelah turnamen," katanya.
Bagi pecinta tenis di Indonesia, kisah Chwalinska menjadi pengingat bahwa tekanan mental dalam olahraga kompetitif sangat nyata. Depresi yang dialaminya bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju puncak. Di tengah gempuran ekspektasi dan sorotan publik, kemampuan untuk melindungi diri sendiri menjadi keterampilan yang tak kalah penting dari pukulan forehand atau backhand.
Ke depan, Chwalinska harus beradaptasi dengan perubahan besar dalam hidupnya. Pendapatan fantastis di satu turnamen, sorotan media yang lebih intens, dan ekspektasi yang meninggi akan menjadi tantangan baru. "Ini akan berbeda, pasti, tapi saya pikir dan berharap saya akan beradaptasi. Saya akan bekerja keras dan memberikan segalanya untuk menjadi lebih baik setiap hari," ujarnya. Pertanyaannya, bisakah ia mempertahankan konsistensi dan menjadikan momen ini sebagai batu loncatan, bukan sekadar kilas balik?



