Kontroversi 'The Body Keeps the Score': Mitos Memori Tertekan Kembali Mengemuka
Baca dalam 60 detik
- Buku bestseller 'The Body Keeps the Score' mempopulerkan klaim kontroversial bahwa trauma tersimpan di tubuh sebagai memori tertekan, sebuah konsep yang telah dibantah oleh riset memori modern.
- Para ilmuwan memperingatkan bahwa teknik terapi seperti hipnosis dan guided imagery justru berisiko menanamkan memori palsu, bukan mengungkap kenangan asli.
- Di era media sosial, klaim memori tertekan dieksploitasi untuk menjual program pelatihan daring, sementara terapi psikedelik yang sedang naik daun juga memicu kekhawatiran serupa.

Frasa "tubuh menyimpan skor" yang kerap muncul dalam diskusi daring tentang trauma ternyata bersumber dari buku nonfiksi populer karya psikiater Belanda Bessel van der Kolk. Namun di balik popularitasnya, buku yang bertengger di daftar bestseller New York Times selama hampir enam tahun itu menyandarkan diri pada klaim yang jauh dari konsensus ilmiah: bahwa ingatan traumatis hidup di dalam tubuh, tidak dapat diakses oleh kesadaran, dan baru muncul kembali melalui gejala fisik.
Konsep memori tertekan (repressed memory) sebenarnya bukan hal baru. Pada 1990-an, gagasan ini memicu perdebatan sengit yang dikenal sebagai "perang memori" antara klinisi dan peneliti memori. Inti perdebatannya adalah apakah pengalaman traumatis bisa sepenuhnya ditekan ke alam bawah sadar sebagai mekanisme pertahanan, lalu pulih kembali dalam terapi. Setelah lebih dari satu dekade penelitian yang meragukan keandalan represi, banyak pihak menganggap isu ini telah selesai. Namun, van der Kolk menghidupkannya kembali dengan klaim bahwa tubuhlah yang menyimpan ingatan tersebut.
Menurut para peneliti memori, stres akibat trauma memang dapat mengubah kadar hormon seperti adrenalin dan kortisol, yang berdampak pada tekanan darah, libido, dan perasaan aman. Gangguan stres pascatrauma (PTSD) bahkan menimbulkan gejala fisik seperti mual, serangan panik, dan sulit tidur. Akan tetapi, klaim bahwa ingatan traumatis tersimpan utuh di luar kesadaran tidak didukung bukti. Sebaliknya, riset menunjukkan bahwa memori autobiografis dibangun ulang setiap kali dikenang, sehingga rentan terhadap distorsi oleh konteks, emosi, dan sugesti.
Kekhawatiran utama para ilmuwan adalah bahwa teknik terapi yang dipromosikan van der Kolk—seperti yoga, psikodrama, dan terapi berbasis imaji—sering diklaim mampu "mengakses memori tertekan". Padahal, teknik-teknik ini justru meningkatkan sugestibilitas pasien dan berisiko menciptakan ingatan palsu. Organisasi profesi seperti American Psychological Association dan British Psychological Society telah berulang kali memperingatkan hal ini. Di media sosial, klaim tersebut bahkan dieksploitasi: iklan yang mengaitkan mimpi buruk dengan trauma yang tidak diingat mengarahkan pengguna ke program pelatihan berbayar.
Fenomena ini juga merambah ke terapi berbantuan psikedelik, yang akhir-akhir ini mendapat perhatian van der Kolk. Zat seperti MDMA dan psilocybin memang menunjukkan potensi dalam penelitian terkontrol, namun dari sisi memori, psikedelik meningkatkan sugestibilitas dan menimbulkan perasaan yakin yang kuat terhadap pengalaman yang dialami. Kombinasi ini berbahaya karena seseorang bisa pulang dengan keyakinan penuh bahwa memori palsu adalah nyata. Laporan kualitatif awal sudah mendokumentasikan kasus di mana ingatan traumatis muncul selama terapi psikedelik, namun keakuratannya diragukan.
Di Indonesia, popularitas buku van der Kolk juga cukup tinggi, terutama di kalangan pegiat kesehatan mental dan komunitas swadaya. Namun, minimnya literasi tentang cara kerja memori membuat klaim "tubuh menyimpan skor" mudah diterima tanpa kritik. Padahal, pendekatan yang tidak berbasis bukti berpotensi membahayakan pasien, misalnya dengan mengarahkan mereka pada terapi mahal yang tidak efektif atau bahkan memperburuk kondisi. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: sejauh mana publik Indonesia siap menyaring informasi trauma yang beredar di era digital ini?



