Menjelang Piala Dunia 2026, Seberapa Hafal Anda dengan Tuan Rumah Sepanjang Sejarah?
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 akan digelar di tiga negara sekaligus, pertama kali dalam sejarah turnamen.
- Sejak 1930, total 17 negara pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia, termasuk Indonesia yang sempat diusulkan.
- Kuis ini menguji pengetahuan publik tentang tuan rumah Piala Dunia, relevan bagi penggemar sepak bola Indonesia.

Empat hari menjelang kick-off Piala Dunia 2026, gelaran akbar sepak bola yang untuk pertama kalinya digelar di tiga negara—Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada—penggemar di seluruh dunia mulai mengasah ingatan. Sebuah kuis daring yang dirilis oleh BBC Sport menantang publik untuk menyebutkan seluruh negara yang pernah menjadi tuan rumah turnamen empat tahunan ini sejak edisi perdana pada 1930. Pertanyaan sederhana namun menggelitik: seberapa dalam pengetahuan Anda tentang sejarah Piala Dunia?
Kuis ini muncul di tengah euforia menyambut Piala Dunia ke-23 yang akan memecahkan rekor jumlah peserta menjadi 48 tim. Format tiga tuan rumah sekaligus menjadi babak baru dalam tradisi turnamen yang sebelumnya hanya dihelat oleh satu atau dua negara. Meksiko sendiri akan menjadi negara pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk ketiga kalinya setelah 1970 dan 1986, sementara Kanada dan AS akan menjadi tuan rumah perdana (AS pernah menjadi tuan rumah pada 1994).
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kuis ini bukan sekadar nostalgia. Dengan antusiasme tinggi terhadap Piala Dunia—terbukti dari rating siaran yang selalu tinggi—pengetahuan tentang tuan rumah historis bisa menjadi modal diskusi warung kopi atau media sosial. Apalagi, Indonesia pernah menjadi salah satu kandidat tuan rumah Piala Dunia 2034 sebelum akhirnya menarik diri. Artinya, jejak tuan rumah di masa depan mungkin akan melibatkan Asia Tenggara.
Kuis BBC ini juga menjadi pengingat bahwa Piala Dunia bukan hanya tentang tim-tim besar seperti Brasil atau Jerman, tetapi juga tentang negara-negara yang pernah menjadi tuan rumah, termasuk yang mungkin jarang diingat seperti Swiss (1954) atau Swedia (1958). Bahkan, ada negara yang menjadi tuan rumah namun tidak pernah lolos ke putaran final—seperti Qatar pada 2022. Hal ini menunjukkan bahwa menjadi tuan rumah adalah prestasi tersendiri, terlepas dari performa tim nasional.
Menurut sejarawan sepak bola dari Universitas Indonesia, Dr. Andi M. Arifin, kuis semacam ini memiliki nilai edukatif. "Mengingat tuan rumah Piala Dunia sama dengan memetakan peta kekuatan sepak bola global. Setiap tuan rumah meninggalkan warisan infrastruktur dan budaya sepak bola yang berbeda," ujarnya. Ia menambahkan, bagi Indonesia yang bercita-cita menjadi tuan rumah di masa depan, mempelajari pengalaman negara-negara sebelumnya sangat penting.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Indonesia suatu hari nanti masuk dalam daftar tuan rumah Piala Dunia? Dengan potensi ekonomi dan demografi yang besar, bukan tidak mungkin. Namun, tantangan infrastruktur dan komitmen politik masih menjadi pekerjaan rumah. Sembari menunggu, mengikuti kuis seperti ini bisa menjadi cara ringan untuk tetap terhubung dengan sejarah turnamen terbesar di dunia.


