Piala Dunia 2026 di Amerika: Antusiasme dan Kekhawatiran Menjelang Kick-off
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 yang digelar di AS, Kanada, dan Meksiko memicu lonjakan minat sepak bola di Amerika Serikat, dengan klub lokal mencatat peningkatan tiga kali lipat jumlah pemain.
- Harga tiket yang mahal dan akses terbatas menjadi kendala utama bagi penggemar, meskipun ada zona penggemar gratis dan harapan bisnis lokal meraup untung.
- Kekhawatiran logistik seperti kemacetan lalu lintas dan kesiapan infrastruktur menjadi sorotan, terutama untuk pertandingan final di New Jersey.

Lebih dari tiga dekade setelah terakhir kali menjadi tuan rumah, Amerika Serikat kembali menyambut Piala Dunia—kali ini bersama Kanada dan Meksiko—dengan campuran antara euforia dan kegelisahan. Hanya beberapa hari menjelang pertandingan perdana, gelaran sepak bola terbesar di planet ini telah memicu perdebatan sengit seputar harga tiket, ketegangan geopolitik, dan kesiapan infrastruktur.
Di Morristown, New Jersey, tim nasional Brasil telah mendirikan kamp latihan di fasilitas Red Bull. Para penggemar berjejer di pinggir lapangan untuk menyaksikan latihan, berharap mendapatkan tanda tangan atau foto pemain idola. Penyerang Brasil dan Manchester United, Matheus Cunha, memuji sambutan hangat dan kondisi lapangan yang mengingatkannya pada kampung halaman. "Satu-satunya masalah, ini disebut football, bukan soccer," candanya.
Antusiasme juga terlihat di klub sepak bola lokal. S.C. Gjøa Soccer Club di Brooklyn melaporkan lonjakan tiga kali lipat jumlah pemain dalam setahun terakhir. Pelatih Kaha Tavadze meyakini hal ini langsung dipicu oleh Piala Dunia. "Anak-anak sekarang mengikuti setiap pertandingan, hafal nama pemain, dan memakai jersey tim favorit. Menonton langsung akan mengubah pola pikir mereka," ujarnya. Namun, di balik euforia, ada kenyataan pahit: harga tiket yang melambung tinggi.
Shantay Armstrong, ibu dari seorang pemain muda berusia tujuh tahun, mengaku patah hati setelah gagal mendapatkan tiket murah melalui undian yang ditawarkan pemerintah New York. "Hanya dalam hitungan menit, situs mengatakan undian ditutup. Rasanya seperti terkunci dari kesempatan," keluhnya. Untuk mengatasi masalah ini, pihak penyelenggara menyediakan zona penggemar gratis dan mendorong warga serta wisatawan untuk berbelanja di usaha lokal, berharap gelombang keuangan FIFA dapat dirasakan oleh masyarakat kecil.
Enda Keenan, pemilik Legend's Bar di seberang Empire State Building, bahkan harus menolak permintaan dari FIFA karena kapasitas tidak mencukupi. "Kami tidak bisa membantu diri kami sendiri, ini akan sangat gila. Orang yang tidak menonton sepak bola pun akan mencoba masuk ke bar dan zona penggemar," katanya. Ia memperkirakan Piala Dunia akan jauh lebih ramai daripada final Liga Champions, yang sudah membuatnya mengirim pelanggan ke lima bar lain.
Namun, euforia tidak menghilangkan kekhawatiran logistik. Alice Baxter, ibu dari kiper berusia 13 tahun Baxter Rowland, memilih berkendara ke stadion tetapi khawatir dengan kemacetan lalu lintas dan parkir. "Saya pikir akan sedikit stres, terutama untuk beberapa pertandingan pertama. Semoga mereka bisa memperbaiki kekurangan sebelum final di New Jersey," ujarnya. Pertanyaan besarnya: apakah Amerika Serikat benar-benar siap menjadi tuan rumah pesta sepak bola terbesar di dunia, atau justru akan kewalahan oleh skala acara yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya?
