Mangrove Langka Camptostemon philippinensis Ditemukan di Teluk Balikpapan, Jadi Habitat Krusial Bekantan
Baca dalam 60 detik
- Peneliti BRIN dan UGM mengonfirmasi populasi Camptostemon philippinensis di Teluk Balikpapan, spesies mangrove yang hanya tercatat di dua lokasi sebelumnya.
- Keberadaan mangrove langka ini menjadi sumber pakan utama bekantan (Nasalis larvatus), primata endemik Kalimantan yang populasinya terancam.
- IUCN tengah meninjau ulang status konservasi C. philippinensis, sementara ancaman alih fungsi lahan di pesisir masih mengintai.

Camptostemon philippinensis, spesies mangrove yang nyaris punah di habitat asalnya, baru saja terkonfirmasi tumbuh di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Temuan ini bukan sekadar catatan biodiversitas, melainkan menjadi penanda penting bagi kelangsungan hidup bekantan (Nasalis larvatus), primata endemik yang menggantungkan diri pada buah mangrove sebagai makanan utama.
Penelitian kolaboratif antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Gadjah Mada yang dipublikasikan pada Maret 2025 lalu mengungkap fakta mengejutkan. Di pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Kabupaten Penajam Paser Utara, tim menemukan 527 individu C. philippinensis. Mayoritas berupa bibit, menandakan potensi regenerasi alami yang baik, namun jumlah pohon dewasa yang sedikit mencerminkan persaingan ketat di habitat yang terbatas.
Kawasan Teluk Balikpapan seluas 168 kilometer persegi ini dikenal sebagai rumah bagi sekitar 60 kelompok bekantan. Primata berhidung panjang itu sangat bergantung pada mangrove, tidak hanya untuk pakan—buah, daun muda, dan biji—tetapi juga sebagai tempat bertengger dan berlindung dari predator. Kehadiran C. philippinensis menambah daftar jenis mangrove yang menjadi penopang ekosistem tersebut, bersama Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, dan lainnya.
Menurut Frida Sidik, Ahli Ekologi Mangrove BRIN, keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan memberikan harapan bagi konservasi spesies ini. Sebelumnya, mangrove tersebut hanya terdokumentasi di pesisir Berau, Kalimantan Timur, dan diduga kuat menyebar hingga Sulawesi. Bahkan, Frida mengonfirmasi penemuan spesies serupa di Manokwari, Papua Barat, yang telah diverifikasi oleh pakar di Filipina—negara asal taksonomi tumbuhan ini.
Meski demikian, status langka C. philippinensis belum bisa dihapus. Frida menjelaskan bahwa IUCN saat ini sedang mempertimbangkan perubahan status konservasi. “Status terancam mungkin lebih mencerminkan kondisi di Filipina, di mana ancaman seperti alih fungsi lahan dan eksploitasi kayu mangrove sangat nyata. Di Indonesia, ancaman serupa belum terlihat, tapi jika ada pembukaan lahan atau penebangan untuk arang, spesies ini pasti terancam punah,” ujarnya kepada Mongabay Indonesia, awal Juni 2026.
Ancaman terhadap C. philippinensis juga berarti ancaman bagi bekantan. Meskipun Frida menilai bekantan masih bisa beralih ke jenis mangrove lain jika populasi C. philippinensis menurun, ketergantungan jangka panjang pada satu spesies tetap berisiko. Apalagi, data mengenai peran ekologis C. philippinensis di habitat alami bekantan masih sangat terbatas.
“Jangan sampai pembangunan yang dilakukan manusia mengancam kelestariannya,” kata Frida Sidik, merujuk pada tekanan di kawasan pesisir Kalimantan Timur, termasuk proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dari sisi pemanfaatan, kulit kayu dan daun C. philippinensis mengandung senyawa anti-melanogenik dan antibakteri yang berpotensi untuk pengembangan farmasi. Namun, hingga kini belum ada catatan eksploitasi komersial. Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada 1885 dengan nama Cumingia philippinensis oleh S. Vidal.
Ke depan, riset lebih mendalam diperlukan untuk memetakan sebaran sesungguhnya C. philippinensis di Indonesia, terutama di Kalimantan dan Sulawesi. Tanpa data yang memadai, upaya konservasi akan berjalan di tempat. Pertanyaan yang menggantung: mampukah Indonesia menjaga mangrove langka ini di tengah deru pembangunan dan perubahan iklim?



