Hiu Paus Kembali Terdampar di Cilacap: Alarm Kualitas Laut yang Terabaikan?
Baca dalam 60 detik
- Dua hiu paus ditemukan mati terdampar di pesisir Cilacap dalam sepekan, dengan panjang mencapai 8,36 meter.
- Nekropsi mengungkap luka akibat baling-baling kapal, plastik di saluran cerna, dan dugaan keracunan akut.
- Fenomena ini menjadi indikator tekanan lingkungan laut yang kian serius, memicu pertanyaan tentang dampak aktivitas manusia.

Dalam sepekan terakhir, dua hiu paus (Rhincodon typus) ditemukan mati terdampar di pesisir Cilacap, Jawa Tengah, memicu kekhawatiran para pegiat konservasi dan peneliti akan kondisi lingkungan laut yang semakin terdegradasi. Peristiwa ini bukan sekadar insiden lokal, melainkan alarm tentang ancaman yang dihadapi spesies migratori raksasa ini di perairan Indonesia.
Jumawan, Ketua Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, adalah orang pertama yang menemukan bangkai hiu paus di Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, pada Sabtu (23/5/2026). Sepekan sebelumnya, seekor hiu paus sepanjang 4 meter juga terdampar di Pantai Pagubugan, hanya berjarak sekitar 6 kilometer. Meskipun warga dan tim berusaha mendorongnya kembali ke laut, upaya itu gagal. Evakuasi menggunakan ekskavator pun tak mudah—tali tambang yang digunakan beberapa kali putus, menggambarkan besarnya ukuran satwa yang mencapai 8,36 meter dengan diameter 3,71 meter.
Fenomena ini bukan yang pertama. Darmawan dari Balai Pengelolaan Laut Pontianak Wilayah Kerja Semarang mencatat bahwa pada 2022 lalu, hiu paus terdampar beruntun pada 5, 12, dan 31 Oktober, serta 5 November. Pola berulang ini mendorong para ilmuwan untuk mengurai penyebab di balik keterdamparan massal tersebut.
Mukti Trenggono, pakar kelautan dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), menjelaskan bahwa citra satelit MODIS Aqua menunjukkan perairan Cilacap hingga Kebumen pada Mei 2026 sedang dalam fase produktif. Konsentrasi klorofil-a yang tinggi (1-3 mg/m³) dan suhu permukaan laut 29-30°C menandakan melimpahnya plankton—sumber makanan utama hiu paus. "Kondisi itu ibarat meja makan penuh," ujarnya. Plankton menarik ikan-ikan kecil seperti teri nasi, yang kemudian mengundang hiu paus mendekati perairan dangkal. Temuan nekropsi memperkuat dugaan ini: lambung hiu paus dipenuhi ikan teri nasi yang belum tercerna, menandakan satwa itu tengah aktif mencari makan sebelum mati.
Namun, ketersediaan makanan saja tak cukup menjelaskan keterdamparan. Pemeriksaan fisik mengungkap lima luka sayatan sepanjang 5-10 sentimeter dengan kedalaman sekitar satu milimeter, yang diduga berasal dari benturan baling-baling kapal. Hal ini menunjukkan risiko besar ketika hiu paus memasuki jalur pelayaran yang padat. Lebih mengkhawatirkan lagi, tim peneliti menemukan benda asing berupa plastik di saluran pencernaan. Meski belum dapat dipastikan sebagai penyebab langsung kematian, temuan ini menjadi indikator bahwa kualitas lingkungan laut sedang menghadapi tekanan serius.
Nuning Vita Hidayati, peneliti Ilmu Kelautan Unsoed, menambahkan bahwa pencemaran laut dapat memicu gangguan fisiologis yang tak kasatmata. "Penurunan kualitas perairan akibat pencemaran, termasuk akumulasi logam berat, dapat memengaruhi kondisi fisiologis, sistem imun, dan kemampuan navigasi hiu," jelasnya. Gangguan ini berpotensi menyebabkan disorientasi, stres lingkungan, hingga keracunan yang meningkatkan risiko keterdamparan. Sementara itu, Dwi Suprapti dari Yayasan Sealife Indonesia menduga kematian hiu paus ini mengarah pada intoksikasi akut, meski masih menunggu hasil uji laboratorium.
"Penurunan kualitas perairan akibat pencemaran, termasuk akumulasi logam berat, dapat memengaruhi kondisi fisiologis, sistem imun, dan kemampuan navigasi hiu." — Nuning Vita Hidayati, peneliti Ilmu Kelautan Unsoed
Yayasan Sealife Indonesia telah mengirimkan sampel organ dan isi perut ke laboratorium di Yogyakarta untuk uji histopatologi serta analisis cemaran kimia dan logam berat. Sementara itu, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsoed melakukan pengujian kualitas air, analisis genetik, dan kajian oseanografi. Hasil laboratorium menjadi kunci untuk memahami apakah keterdamparan ini dipicu oleh faktor alami, aktivitas manusia, atau kombinasi keduanya.
Sebagai spesies migratori yang dapat menempuh ribuan kilometer, hiu paus merupakan indikator penting kualitas lingkungan laut. Semakin seringnya satwa ini terdampar di pesisir Indonesia—dari Teluk Cenderawasih hingga Cilacap—menimbulkan pertanyaan besar tentang kondisi habitat yang mereka lintasi. Apakah perairan Indonesia masih layak bagi spesies yang telah berusia jutaan tahun ini? Ataukah kita sedang menyaksikan dampak akumulatif dari polusi plastik, pencemaran kimia, dan lalu lintas kapal yang tak terkendali?



