Alih Fungsi Hutan Ancam Populasi Lebah Madu, Produksi Madu Nasional Merosot
Baca dalam 60 detik
- Peneliti BRIN mencatat lebah madu raksasa Asia mulai bermigrasi ke pemukiman akibat hilangnya habitat hutan.
- Petani madu di Sumbawa dan Flores melaporkan penurunan drastis produksi madu hutan sejak 2018, dipicu konversi hutan menjadi lahan pertanian.
- Ritual adat dan sanksi denda hingga Rp10 juta diterapkan untuk melindungi pohon sarang, namun belum mampu menghentikan laju deforestasi.

Populasi lebah madu raksasa Asia di Indonesia terus terdesak akibat alih fungsi hutan yang masif, mendorong serangga penyerbuk utama ini keluar dari habitat aslinya dan bermigrasi ke pemukiman warga. Fenomena ini tidak hanya mengancam keberlangsungan ekosistem hutan, tetapi juga menekan produksi madu hutan nasional yang selama ini menjadi sumber penghidupan ribuan petani.
Peneliti Pusat Riset Biologi BRIN, Sih Kahono, mengungkapkan bahwa lebah madu raksasa Asia—terutama spesies Apis dorsata dan Apis binghami—kini kerap ditemukan bersarang di atap rumah atau kebun warga. "Kenapa ia keluar hutan? Kok, sekarang mulai bersarang di rumah-rumah orang?" ujarnya dalam diskusi peluncuran buku "Bees and Trees" awal Juni lalu. Menurut Kahono, perubahan ini menjadi indikator jelas bahwa hutan sebagai rumah alami lebah sudah tidak lagi mampu menyediakan pohon-pohon tinggi yang menjadi tempat bersarang dan sumber pakan.
Lebah memegang peran krusial dalam regenerasi hutan. Kahono menjelaskan, saat lebah mengisap nektar, serbuk sari menempel pada bulu tubuhnya dan terbawa ke bunga lain, memungkinkan penyerbukan silang. "Kalau pakai angin, diperkirakan tidak lebih dari 20% serbuk sari yang menempel. Sebab itu lebah sangat diperlukan," katanya. Tanpa lebah, keanekaragaman hayati hutan akan terhambat, dan regenerasi tanaman alami menurun drastis.
Dampak alih fungsi hutan sudah dirasakan langsung oleh petani madu. Junaidi Zain, petani madu hutan dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menceritakan bahwa produksi madu mulai menurun sejak 2018. Ia mengaitkan penurunan ini dengan program swasembada pangan yang mendorong konversi hutan menjadi kebun jagung. "Mulai hutan-hutan itu dibabat, ditanam jagung," ujarnya. Koperasi Hutan Lestari yang ia dirikan pada 2000 kini memiliki 11.000 anggota, namun hanya sekitar 500 yang masih aktif memanen madu. Di Flores, Eman Kelen dari Kelompok Madu Hutan Flores (Mahesa) menambahkan bahwa erupsi Gunung Lewotobi dan alih fungsi lahan menjadi pemukiman memperparah penurunan populasi lebah. "Dalam 1 pohon bisa ratusan sarang. Tapi sekarang pohon-pohon banyak yang hangus," katanya. Padahal, melalui jaringan JMHI, madu Flores sempat diekspor ke Singapura dan China.
Di tengah tekanan ini, masyarakat adat di Flores masih mempertahankan ritual dan hukum adat untuk melindungi pohon-pohon sarang. Sebelum dan sesudah panen, mereka menggelar ritual dengan peralatan khas daerah. Pelanggaran menebang pohon dikenakan sanksi denda hingga Rp10 juta atau hewan. "Pohon leto kami sebut 'pohon rezeki', sekarang sudah langka," ungkap Eman. Namun, upaya lokal ini belum cukup menghadapi laju deforestasi yang didorong kebijakan pemerintah dan perluasan lahan pertanian.
Ke depan, keberlanjutan populasi lebah madu raksasa Asia sangat bergantung pada kebijakan tata ruang yang lebih ramah lingkungan. Apakah pemerintah akan menyeimbangkan program swasembada pangan dengan konservasi hutan? Ataukah lebah-lebah ini akan terus terusir, membawa serta manfaat ekologis dan ekonominya?



