Bertahan 14 Hari di Hutan: Kisah Pendaki yang Hidup dengan Air Sungai
Baca dalam 60 detik
- Seorang pendaki wanita ditemukan dalam kondisi lemah setelah 14 hari hilang di Gunung Batu Putih, Malaysia.
- Kunci keselamatannya adalah mengikuti aliran sungai dan menghindari konsumsi tumbuhan liar yang berisiko.
- Kejadian ini menegaskan pentingnya pengetahuan survival dasar bagi para pendaki di medan ekstrem.

Seorang pendaki asal Malaysia, Jaslinda Saludin (49), ditemukan dalam kondisi selamat setelah hampir dua pekan hilang di kawasan Gunung Batu Putih, Tapah. Ia ditemukan oleh warga suku Orang Asli di dekat Kampung Lubuk Gaharu pada Sabtu (6/6) sore, dalam keadaan lemas dan terus menangis.
Nazri Bah Eng (55), warga yang pertama kali melihat Jaslinda, menuturkan bahwa ia bersama dua kerabatnya sedang menuju sungai untuk memancing ketika mendapati Jaslinda tengah tertatih-tatih sambil membawa kantong plastik berisi aneka tumbuhan dan jamur. "Kami langsung membawanya ke rumah kepala desa, memberinya makanan dan minuman karena ia tampak sangat kelelahan," ujarnya di Rumah Sakit Tapah, Sabtu malam.
Jaslinda merupakan bagian dari rombongan 13 orang yang memulai pendakian Trans Spencer Chapman pada 23 Mei lalu. Rute yang ditempuh meliputi Pos Gedung-Gunung Bah Gading-Gunung Batu Putih-Kuala Woh. Ia terpisah dari rombongan setelah mengeluh sakit dan memutuskan terus mendaki sendirian. Terakhir terlihat pada 24 Mei pukul 07.30 waktu setempat.
Ketua Persatuan Pemandu Gunung Malaysia (PMGM), Muzafar Mohamad, menilai faktor utama yang menyelamatkan Jaslinda adalah ketahanan mental dan akses terhadap air sungai. "Berdasarkan pengalaman operasi SAR, pendaki yang tersesat biasanya akan mengikuti aliran sungai. Ini strategi dasar bertahan hidup karena sungai menyediakan air minum dan berpotensi mengarah ke pemukiman," jelasnya.
Tim penyelamat sebelumnya menduga Jaslinda mungkin terjebak di lembah sungai yang curam dengan air terjun besar. Beberapa tim yang mencoba menyusuri jalur tersebut terpaksa mundur karena arus deras dan medan yang sulit. Namun, Jaslinda berhasil terus bergerak hingga akhirnya ditemukan.
Muzafar menambahkan bahwa manusia dapat bertahan tanpa makanan dalam waktu lama asalkan cukup air. "Saya yakin ia hanya minum air sungai dan tidak mengonsumsi tumbuhan atau buah yang tidak dikenal, yang bisa menyebabkan keracunan," katanya. Ia juga memuji mental baja Jaslinda yang mampu terus bergerak dalam kondisi sulit.
Kisah ini menjadi pengingat bagi para pendaki Indonesia yang kerap menaklukkan gunung-gunung berketinggian. Pengetahuan dasar survival, seperti tetap tenang, mengikuti aliran air, dan menghindari konsumsi flora liar, bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati. Di Indonesia, kasus pendaki hilang juga kerap terjadi, terutama di medan seperti Gunung Rinjani atau Semeru.
Momen haru terjadi di RS Tapah saat Jaslinda bertemu kembali dengan suaminya, Haszman Othman (61), dan adiknya, Jasima (52). Pelukan hangat mewarnai reuni tersebut. Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah regulasi pendakian di kawasan konservasi perlu diperketat untuk mencegah insiden serupa?



