Modric Tetap Nyala di Usia 40: Dalic Yakin Kroasia Bisa Ulang Sukses Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Zlatko Dalic menegaskan Luka Modric masih menjadi motor utama Kroasia di Piala Dunia 2026, meski usianya sudah 40 tahun.
- Kroasia tergabung di Grup L bersama Inggris, Panama, dan Ghana, yang disebut Dalic sebagai grup tersulit di turnamen.
- Andrej Kramaric dan Josip Stanisic memuji pengaruh Modric di dalam dan luar lapangan, serta menekankan kebersamaan sebagai kunci sukses tim.
Luka Modric, gelandang veteran berusia 40 tahun, masih menjadi pusat gravitasi Timnas Kroasia menjelang Piala Dunia 2026. Pelatih Zlatko Dalic dan dua pemain kunci, Andrej Kramaric serta Josip Stanisic, sepakat bahwa kapten mereka adalah 'driving force' yang membuat tim asal Balkan itu tetap kompetitif di panggung terbesar sepak bola.
Kroasia memang bukan negara besar—dengan populasi kurang dari empat juta jiwa—namun rekor mereka di Piala Dunia sulit ditandingi: peringkat ketiga pada 1998 dan 2022, serta runner-up pada 2018. Dalam enam partisipasi, mereka tiga kali menembus semifinal. Prestasi itu otomatis menaikkan ekspektasi publik, tetapi Dalic menolak dibebani tekanan.
“Kami ingin hasil terbaik, tapi saya tidak mau menciptakan tekanan berdasarkan capaian sebelumnya. Yang terpenting, kami menikmati turnamen ini,” ujar Dalic dalam wawancara dengan FIFA. Ia menambahkan bahwa tekad dan kualitas telah membawa Kroasia meraih dua medali dalam dua edisi terakhir, dan hal itu harus dipertahankan tanpa beban berlebih.
Pujian tertinggi tentu mengarah ke Modric. Dalic menyebutnya sebagai “pemain utama, kekuatan pendorong yang membuat tim tetap berjalan.” Meski sudah 40 tahun, gelandang Real Madrid itu tetap ambisius dan menjadi contoh profesionalisme. “Dedikasi, penampilan, dan perilakunya di level tertinggi,” kata Dalic.
Kramaric, striker andalan Kroasia, bahkan lebih ekstrem. Ia menyebut Modric sebagai “fenomena” yang akan dikenang selama 500 tahun ke depan. “Dia seperti cahaya penuntun dalam perjalanan kami. Semangat dan cintanya pada sepak bola, terutama di usia ketika kebanyakan pemain sudah pensiun, sungguh luar biasa,” ujar Kramaric. Ia juga mengaitkan kesuksesan generasi sekarang dengan warisan tim 1998 yang diisi Davor Suker, Slaven Bilic, dan Zvonimir Boban.
Stanisic, bek muda yang memperkuat Bayer Leverkusen, menekankan aspek lain: kebersamaan. “Kami punya kualitas, tapi itu tidak cukup. Yang paling penting adalah kebersamaan. Itu sudah kami tunjukkan di pertandingan-pertandingan sebelumnya,” katanya. Ia juga mengungkapkan bahwa seluruh Kroasia menantikan turnamen ini setelah dua medali terakhir.
Di sisi lain, tantangan berat sudah menanti. Kroasia tergabung di Grup L bersama Inggris, Panama, dan Ghana. Dalic mengakui grup ini adalah yang terberat di Piala Dunia 2026, terutama laga pembuka melawan Inggris. “Pertandingan pertama selalu krusial. Kami harus tampil maksimal seperti dua turnamen terakhir,” tegasnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Kroasia menawarkan pelajaran tentang konsistensi dan manajemen transisi. Di tengah dominasi negara-negara besar, Kroasia membuktikan bahwa populasi kecil bukan halangan jika ditopang oleh regenerasi pemain berkualitas dan semangat kolektif. Pertanyaan besarnya: mampukah Modric dan kawan-kawan kembali menembus semifinal, atau justru tersandung di fase grup yang berat?

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8163013/original/091675700_1781017698-20260609BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mozambik_FIFA_Matchday_2026-06.jpg.jpeg)
