Craig Gordon: Kiper 43 Tahun yang Menantang Maut Demi Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Kiper Skotlandia Craig Gordon, 43 tahun, menjalani operasi leher berisiko tinggi yang bisa menyebabkan kelumpuhan atau kematian demi tampil di Piala Dunia 2026.
- Gordon telah melewatkan hampir 200 pertandingan karena cedera, termasuk dua tahun tanpa sepak bola akibat patellar tendonitis, namun terus bangkit.
- Jika bermain di Piala Dunia 2026, ia akan menjadi pemain tertua kedua dalam sejarah turnamen, setelah karier yang penuh dengan comeback dramatis.

Craig Gordon, kiper tim nasional Skotlandia yang kini berusia 43 tahun, siap menorehkan sejarah sebagai pemain tertua kedua di Piala Dunia jika ia turun di turnamen 2026. Namun, perjalanannya menuju Charlotte, North Carolina, bukanlah tanpa risiko: pada Maret lalu, ia harus menjalani konsultasi dengan dokter tulang belakang di London yang secara gamblang memperingatkan kemungkinan kelumpuhan hingga kematian akibat prosedur medis yang ia butuhkan.
Dalam film dokumenter BBC Skotlandia berjudul Icons of Football, Gordon mengungkapkan bahwa seluruh kariernya adalah rangkaian comeback dari cedera demi cedera. Dari masalah pergelangan kaki, patah lengan, patah kaki, operasi lutut, hingga cedera leher dan bahu, ia diperkirakan telah absen selama 1.975 hariโsetara dengan sekitar 200 pertandingan. Pada 2012, ia didiagnosis menderita patellar tendonitis, kondisi yang mengancam karier dan membuatnya tidak bermain selama dua tahun penuh.
Gordon mengunjungi ahli di Swedia dan Spanyol, menjalani tiga operasi, dan bahkan menemui psikolog karena klubnya saat itu, Sunderland, mengira rasa sakit yang ia alami saat menaiki tangga atau berjalan di jalan mungkin hanya ada di kepalanya. Ternyata tidak. Seorang dokter bedah menyarankannya pensiun, tetapi ia memilih melanjutkan. "Ada saat-saat di mana saya menangis karena cedera. Saya hanya tidak menunjukkannya kepada semua orang," ujarnya.
Keputusan untuk terus bermain semakin diuji ketika cedera leher mengancam partisipasinya di Piala Dunia. Gordon mengaku khawatir bukan hanya soal karier, tetapi juga kualitas hidupnya di masa depan. "Saya perlu berada dalam kondisi yang cukup baik untuk bermain dengan anak-anak, memastikan mereka tumbuh dengan ayah yang bisa aktif," katanya. Jika tidak ada Piala Dunia, ia kemungkinan besar sudah pensiun. "Saya mungkin akan berhenti di akhir musim lalu," akunya.
Namun, tekadnya membuahkan hasil. Pada November 2025, Gordon menjadi bagian dari kemenangan dramatis 4-2 atas Denmark yang membawa Skotlandia lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 28 tahun. Ia menggambarkan malam itu dengan emosi: "Saya menangis di kamar memikirkan betapa artinya bagi semua orang. Saya sangat fokus hingga ketika Scott McTominay mencetak gol, saya tidak bereaksi. Saya hanya berjalan kembali ke gawang dan bersiap untuk restart."
Persaingan untuk posisi kiper utama melawan Haiti pada Sabtu masih ketat antara Gordon dan Angus Gunn. Meski Gunn diunggulkan, sejarah menunjukkan bahwa Gordon tidak boleh dianggap remeh. Pelatih Steve Clarke, yang pernah mengesampingkannya di Euro sebelumnya, kini mengakui ketangguhan mental kipernya. Gordon, yang melakukan debut internasional lebih dari 22 tahun lalu, menjadi pemain tertua di turnamen 2026 dan mungkin akan mengakhiri kariernya dengan catatan yang tak terlupakan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Gordon menjadi pengingat bahwa dedikasi dan ketahanan mental bisa mengalahkan batasan usia dan cedera. Di tengah gempuran pemain muda, Gordon membuktikan bahwa pengalaman dan tekad tetap menjadi senjata ampuh. Pertanyaannya, akankah ia mendapatkan menit bermain yang layak di panggung terbesar sepak bola dunia? Atau justru kisahnya akan menjadi inspirasi bagi generasi kiper Indonesia yang bermimpi menembus Piala Dunia?



