Senyawa dalam Kacang dan Biji-bijian Terbukti Perkuat Dinding Usus, Bisakah Atasi 'Bocor Usus'?
Baca dalam 60 detik
- Asam fitat, senyawa alami pada kacang-kacangan dan biji-bijian, terbukti mengaktifkan protein HDAC3 yang menjaga integritas lapisan usus.
- Temuan ini membuka peluang terapi baru untuk penyakit radang usus dan gangguan autoimun yang terkait dengan sindrom bocor usus.
- Para peneliti menekankan bahwa konsumsi makanan kaya asam fitat belum tentu setara efek terapeutik; dibutuhkan uji klinis lebih lanjut.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di Nature Communications mengungkap bahwa asam fitat—senyawa yang melimpah dalam kacang-kacangan, biji-bijian, dan serealia—mampu memperkuat sawar usus dengan mengaktifkan protein kunci bernama histone deacetylase 3 (HDAC3). Temuan ini memberikan harapan baru bagi penderita sindrom bocor usus (leaky gut), kondisi yang kerap dikaitkan dengan penyakit radang usus, diabetes tipe 2, dan gangguan autoimun.
Peneliti dari University of Nevada, Las Vegas (UNLV) menemukan bahwa asam fitat, yang juga dikenal sebagai InsP6 atau fitat, berikatan langsung dengan kompleks HDAC3 dan mengaktifkan aktivitas deasetilasinya. Aktivasi ini menekan gen-gen yang bertanggung jawab terhadap perusakan sambungan antarsel usus, sehingga mencegah bocornya molekul berbahaya seperti bakteri dan toksin ke aliran darah. “Ini adalah salah satu studi pertama yang menunjukkan secara rinci bagaimana HDAC3 mempertahankan fungsi sawar usus,” ujar Prasun Guha, asisten profesor di UNLV dan penulis utama studi.
Selama ini asam fitat kerap dicap sebagai antinutrisi karena dapat mengikat mineral seperti zat besi, seng, dan kalsium, sehingga menghambat penyerapannya. Namun, Guha menegaskan bahwa pandangan tersebut perlu direvisi. “Dalam dosis kecil, InsP6 justru berperan sebagai molekul sinyal yang melindungi sawar usus. Efek pengikatan mineral bergantung pada dosis, konteks, dan fisiologi,” jelasnya. Studi ini menunjukkan bahwa asam fitat tidak semata-mata merugikan, melainkan memiliki manfaat biologis yang signifikan.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat pola makan tradisional yang kaya akan sumber asam fitat, seperti tempe, tahu, kacang hijau, dan beras merah. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa konsumsi makanan tersebut belum tentu memberikan efek terapeutik langsung. “Kami belum menguji bentuk makanan utuh, hanya asam fitat murni. Diperlukan uji klinis terkontrol untuk memastikan efektivitasnya pada manusia,” kata Guha. Faktor seperti penyerapan, metabolisme, dan kondisi penyakit individu sangat memengaruhi hasil.
Ke depan, tim peneliti berencana menentukan dosis efektif minimum pada model hewan, lalu melanjutkan ke uji keamanan dan kemanjuran pada manusia. Jika berhasil, terapi berbasis asam fitat atau aktivator HDAC3 dapat menjadi strategi baru untuk mengatasi penyakit radang usus dan kondisi autoimun lainnya. “Studi kami pada hewan menunjukkan bahwa penargetan jalur ini tidak hanya mengurangi permeabilitas usus, tetapi juga membatasi peradangan terkait kolitis,” tambah Guha. Namun, ia mengingatkan bahwa temuan ini masih bersifat praklinis dan belum bisa dijadikan rekomendasi diet atau klinis.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah asam fitat menjadi kunci terapi bocor usus di masa depan, atau justru tetap terperangkap dalam kontroversi antinutrisi? Hanya uji klinis yang akan menjawab.



