Christian Eriksen Kembali Kolaps di Lapangan: ICD Buktikan Fungsinya
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Denmark Christian Eriksen mengalami kolaps saat laga persahabatan melawan Ukraina, namun perangkat ICD yang ditanam sejak 2021 berhasil menyelamatkan nyawanya.
- Kejadian ini berbeda dengan insiden Euro 2020; ICD memberikan kejutan listrik yang memulihkan irama jantung tanpa perlu resusitasi manual.
- Kasus Eriksen kembali memicu diskusi tentang regulasi pemain dengan ICD di berbagai liga, termasuk potensi dampaknya bagi pesepakbola Indonesia.

Christian Eriksen, gelandang tim nasional Denmark yang kini membela Wolfsburg, kembali menjadi sorotan setelah mengalami kolaps di lapangan saat laga persahabatan melawan Ukraina, Minggu lalu. Pemain berusia 34 tahun itu dinyatakan dalam kondisi stabil dan telah diperbolehkan pulang untuk menjalani pemulihan bersama keluarga. Insiden ini terjadi pada menit ke-65 pertandingan di Odense, yang kemudian dihentikan dan akhirnya dibatalkan.
Ini bukan kali pertama Eriksen mengalami kejadian serius di lapangan. Pada Euro 2020, ia menderita serangan jantung saat bertanding melawan Finlandia. Setelah peristiwa itu, Eriksen dipasangi Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD), sebuah alat pacu jantung yang berfungsi sebagai defibrillator mini. ICD inilah yang kembali menjadi penyelamat nyawanya. Dokter tim nasional Denmark, Morten Boesen, mengonfirmasi bahwa "alat pacu jantung berfungsi sebagaimana mestinya" saat Eriksen kolaps.
Dalam pernyataan di media sosial, Eriksen mengakui bahwa menerima kejutan dari ICD berdampak besar pada dirinya dan keluarganya. Namun, ia menegaskan bahwa situasi kali ini berbeda dengan insiden 2021. "Berkat keahlian para dokter, ICD saya melakukan persis apa yang dirancang untuk dilakukan: melindungi saya saat saya membutuhkannya," tulisnya. Ia juga berterima kasih kepada pemain dan tim medis di lapangan yang sigap memberikan pertolongan.
Kejadian ini kembali membuka diskusi tentang keamanan pemain dengan ICD di sepak bola profesional. Setelah kolaps di Euro 2020, kontrak Eriksen dengan Inter Milan diakhiri secara sepakat karena Serie A melarang pemain dengan ICD. Namun, Premier League dan Bundesliga tidak memiliki regulasi serupa, sehingga Eriksen bisa bergabung dengan Brentford dan kemudian Manchester United. Kasus serupa juga dialami Daley Blind yang terus bermain dengan ICD, dan Tom Lockyer yang kembali ke lapangan setelah serangan jantung.
Profesor Aneil Malhotra dari Manchester Metropolitan University menjelaskan bahwa ICD menghilangkan faktor manusia dalam penanganan darurat. "Jika jantung mengembangkan irama berbahaya yang bisa menyebabkan serangan jantung mendadak, perangkat dapat mendeteksinya dengan cepat dan memberikan pengobatan, termasuk kejutan jika perlu," ujarnya. Ini berbeda dengan kejadian di Euro 2020 saat CPR harus dilakukan secara manual.
Bagi Indonesia, kasus Eriksen menjadi pengingat pentingnya kesiapan medis di lapangan dan regulasi yang jelas terkait pemain dengan kondisi jantung. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dan klub-klub Liga Indonesia perlu mengevaluasi prosedur penanganan darurat serta kebijakan terkait pemain yang menggunakan ICD. Meskipun belum ada kasus serupa di Indonesia, langkah preventif seperti pemeriksaan kesehatan rutin dan ketersediaan defibrillator di stadion menjadi krusial.
Ke depan, Eriksen berencana fokus pada pemulihan, menghabiskan waktu bersama keluarga, dan bermain sepak bola dengan anak-anaknya. Ia tidak menunjukkan kekhawatiran untuk melanjutkan karier dengan ICD. Namun, insiden ini kembali menimbulkan pertanyaan: sejauh mana risiko yang dapat diterima dalam olahraga profesional, dan bagaimana keseimbangan antara hak pemain untuk bermain dan keselamatan mereka?



