El Niño Tak Hanya Bikin Kering, Kualitas Udara Juga Terancam
Baca dalam 60 detik
- Fenomena El Niño mengubah dinamika atmosfer sehingga konsentrasi polutan PM2,5 dan NO2 meningkat, bahkan tanpa kenaikan emisi signifikan.
- Penelitian di Asia Tenggara menunjukkan hampir semua kota besar melampaui batas aman WHO selama El Niño 2023–2024, dengan Jakarta dan Hanoi mencapai >100 µg/m³.
- Pemerintah perlu mengintegrasikan peringatan dini El Niño dengan sistem kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

El Niño yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus 2026 tidak hanya memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kebakaran hutan, tetapi juga mengancam kualitas udara di Indonesia. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa fenomena iklim ini secara langsung memperburuk polusi udara melalui perubahan dinamika atmosfer, sehingga masyarakat terpapar partikel halus PM2,5 dan gas nitrogen dioksida (NO2) pada level berbahaya.
Peneliti menemukan bahwa selama episode El Niño 2023–2024, hampir seluruh kota besar di Asia Tenggara mencatatkan konsentrasi PM2,5 di atas ambang aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jakarta dan Hanoi, misalnya, mengalami tingkat polusi melebihi 100 mikrogram per meter kubik (µg/m³), jauh dari pedoman harian WHO. Yang menarik, lonjakan ini tidak semata-mata disebabkan oleh peningkatan emisi, melainkan karena perubahan sirkulasi monsun yang menghambat penyebaran polutan.
Monsun, sistem angin musiman yang biasanya mengangkut dan mengencerkan polusi, mengalami gangguan selama El Niño. Perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik mengubah karakteristik monsun, sehingga partikel debu dan gas beracun menumpuk di suatu wilayah. Akibatnya, kualitas udara memburuk meskipun aktivitas industri atau kendaraan tidak meningkat drastis. Temuan ini menjelaskan mengapa beberapa daerah di Indonesia mengalami kabut asap tebal tanpa adanya kebakaran besar.
Penelitian di Jawa Barat selama musim kemarau 2023 memperkuat temuan ini. Konsentrasi NO2 di wilayah perkotaan tidak pernah turun signifikan dan secara konsisten lebih tinggi dibandingkan saat musim hujan. Kondisi atmosfer yang lebih panas dan kering selama El Niño mengurangi kemampuan udara untuk membersihkan diri, sehingga polutan gas dan partikulat terakumulasi. Masyarakat pun terpapar campuran racun yang meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, asma, dan penyakit kardiovaskular.
Bagi Indonesia, implikasinya sangat serius. Sistem kesehatan harus bersiap menghadapi lonjakan kasus penyakit terkait polusi, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Tenaga kesehatan di puskesmas dan rumah sakit perlu dibekali informasi kualitas udara real-time agar dapat memberikan edukasi kepada kelompok rentan—anak-anak, lansia, ibu hamil—untuk membatasi aktivitas luar ruangan saat polusi tinggi. Langkah sederhana seperti memakai masker dan memantau indeks kualitas udara harian bisa mengurangi dampak.
Pemerintah juga perlu merevisi strategi kesiapsiagaan bencana. Selama ini peringatan dini El Niño hanya berfokus pada kekeringan dan kebakaran, padahal polusi udara adalah ancaman diam yang tak kalah mematikan. Integrasi data iklim, kualitas udara, dan sistem kesehatan akan memungkinkan respons yang lebih proaktif, bukan sekadar reaktif. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengubah peringatan cuaca menjadi peringatan kesehatan sebelum puncak El Niño tiba?



