ICD: Alat Penyelamat Nyawa Atlet yang Juga Menyimpan Risiko
Baca dalam 60 detik
- Christian Eriksen kembali mengalami insiden jantung saat laga Denmark vs Ukraina, namun ICD yang terpasang di dadanya berfungsi normal.
- ICD memungkinkan atlet kembali ke level tertinggi, tetapi keputusan bermain bersifat individual dan penuh pertimbangan risiko.
- Di Indonesia, regulasi terkait penggunaan ICD pada atlet masih terbatas, sementara kesadaran akan deteksi dini masalah jantung perlu ditingkatkan.

Christian Eriksen kembali menjadi sorotan setelah ia tiba-tiba ambruk saat memperkuat Denmark melawan Ukraina dalam laga persahabatan akhir pekan lalu. Peristiwa itu sontak mengingatkan publik pada momen mengerikan di Euro 2020, ketika ia mengalami henti jantung di lapangan. Namun, kali ini ada perbedaan: alat pacu jantung yang ditanam di dadanya, yang dikenal sebagai implantable cardioverter defibrillator (ICD), bekerja sebagaimana mestinya.
Dokter tim nasional Denmark, Morten Boesen, mengonfirmasi bahwa perangkat tersebut merespons dengan tepat saat mendeteksi kelainan irama jantung Eriksen. Insiden ini kembali membuka diskusi tentang bagaimana atlet dengan ICD bisa bertahan di olahraga elite, apa risikonya, dan bagaimana rasanya ketika alat itu aktif.
ICD adalah perangkat seukuran setengah ponsel yang ditanam di dada, dengan kabel yang terhubung ke jantung. Fungsinya memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung normal jika terjadi henti atau aritmia. Pemasangan ICD bisa disebabkan berbagai kondisi, seperti gagal jantung, penyakit jantung koroner, atau aritmia. Menurut Dr. Amanda Lahti, dokter dan peneliti kedokteran olahraga, setiap kasus bersifat individual. Keputusan seorang atlet kembali bermain harus melalui diskusi bersama antara klub, pemain, agen, dan ahli medis. Namun, kata Lahti, "Kesulitannya adalah atlet sendiri yang memiliki kata akhir, dan mereka tidak akan pernah berkata 'berhenti'. Mereka bersedia mengambil risiko yang mungkin tidak akan kita ambil."
Kembalinya Eriksen ke lapangan hijau menjadi contoh nyata bahwa atlet dengan ICD bisa berprestasi di level tertinggi. Ia bergabung dengan Brentford pada Januari 2022, lalu pindah ke Manchester United, dan kini bermain untuk Wolfsburg di Bundesliga. Namun, tidak semua kompetisi memiliki aturan yang sama. Serie A Italia, misalnya, melarang pemain dengan ICD bermain, sehingga Eriksen harus hengkang dari Inter Milan. Di Premier League, tidak ada larangan mutlak, tetapi pemain harus menjalani tes individu untuk memastikan kelayakan.
James Taylor, mantan pemain kriket Inggris yang pensiun di usia 26 tahun karena penyakit jantung genetik, berbagi pengalaman tentang ICD-nya. Ia mengaku awalnya cemas, tetapi kemudian menganggap alat itu sebagai "teman" yang bisa menyelamatkan nyawa. Taylor pernah mengalami kejutan yang tidak tepat saat berenang di Antigua, di mana ICD mendeteksi detak jantung 500 kali per menit padahal itu adalah pompa kolam. Meski demikian, ia tetap merasa percaya diri berolahraga ringan seperti golf dan padel.
Bagi sebagian atlet, dampak psikologis dan sosial juga menjadi pertimbangan. Clive Clarke, mantan pesepakbola yang mengalami henti jantung di ruang ganti saat bermain untuk Leicester City pada 2007, memutuskan untuk pensiun dini. "Saya punya keluarga muda, istri dan anak perempuan berusia satu tahun. Saya memutuskan untuk mundur," katanya. Clarke juga meragukan apakah pemain dengan ICD seharusnya diizinkan bermain, mengingat dampak traumatis bagi rekan setim jika terjadi insiden.
Di Indonesia, regulasi terkait penggunaan ICD pada atlet masih sangat terbatas. Belum ada aturan spesifik dari federasi olahraga nasional mengenai partisipasi atlet dengan alat pacu jantung. Sementara itu, kesadaran akan deteksi dini masalah jantung pada atlet muda perlu ditingkatkan. Beberapa kasus kematian mendadak di lapangan, seperti yang terjadi pada pemain sepak bola lokal, menunjukkan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan ketersediaan alat defibrilator eksternal otomatis (AED) di arena olahraga.
Ke depan, perkembangan teknologi ICD yang semakin canggih diharapkan dapat memberikan lebih banyak kepastian bagi atlet. Namun, seperti diingatkan Dr. Lahti, "Tidak ada jaminan 100% bahwa Anda akan selamat." Pertanyaan yang masih mengemuka: sejauh mana risiko dapat diterima demi mengejar karier di olahraga elite, dan bagaimana regulasi di Indonesia bisa mengakomodasi atlet dengan kondisi jantung khusus?



