Esther Rantzen: Pejuang Kanker yang Merayakan Setiap Hari sebagai Keajaiban
Baca dalam 60 detik
- Dame Esther Rantzen, pembawa acara TV legendaris Inggris, akan merayakan ulang tahun ke-86 pada 22 Juni, tiga tahun setelah didiagnosis kanker paru-paru dan payudara stadium empat.
- Putrinya, Rebecca Wilcox, mengungkapkan bahwa sang ibu menjalani setiap hari dengan rasa syukur dan keajaiban, serta masih aktif berkebun meski dalam kondisi terminal.
- Kisah Esther menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan semangat hidup, relevan bagi pasien kanker di Indonesia yang kerap menghadapi stigma dan keterbatasan akses paliatif.

Dame Esther Rantzen, ikon televisi Inggris yang telah berjuang melawan kanker stadium akhir selama tiga tahun, akan genap berusia 86 tahun pada 22 Juni mendatang. Putrinya, Rebecca Wilcox, menyebut bahwa sang ibu sendiri tak menyangka masih bisa bertahan hingga saat ini, dan setiap hari dianggap sebagai keajaiban yang patut disyukuri.
Dalam wawancara dengan program Vanessa, Wilcox mengungkapkan bahwa ibunya didiagnosis menderita kanker paru-paru dan payudara stadium empat tiga tahun lalu. Meski prognosisnya terminal, Esther tetap menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. “Dia sama terkejutnya dengan siapa pun bahwa dia masih di sini,” ujar Wilcox. “Kami sangat bersyukur. Setiap hari adalah keajaiban yang indah dan benar-benar kami hargai.”
Selain perjuangan melawan kanker, Esther juga dikenal karena kecintaannya pada berkebun. Putrinya menggambarkan taman rumah mereka sebagai hasil kerja keras sang ibu yang mengubah lahan pertanian terbengkalai menjadi taman yang indah. “Dia adalah pengadopsi awal konsep rewilding. Monty Don (presenter berkebun terkenal) tidak ada apa-apanya dibanding dia,” kata Wilcox. Taman itu bahkan menjadi lokasi pernikahan Wilcox.
Kisah Esther juga menyentuh sisi spiritual dan emosional. Dalam wawancara sebelumnya dengan The Times, ia mengungkapkan harapan untuk bertemu kembali dengan suaminya, Desmond Wilcox, yang meninggal pada 2000. “Jika ada surga, itu akan menjadi tempat yang sangat bahagia,” katanya. “Ide untuk bertemu Desmond lagi dan semua yang saya cintai dan kehilangan adalah hal yang indah.” Pernyataan ini menggemakan pernyataannya di acara Piers Morgan's Life Stories, di mana ia mengaku lebih memilih 10 menit bersama Desmond daripada 10 tahun hidup tambahan.
Bagi masyarakat Indonesia, kisah Esther Rantzen memberikan pelajaran berharga tentang menghadapi penyakit terminal dengan martabat dan rasa syukur. Di Indonesia, pasien kanker stadium akhir seringkali menghadapi stigma sosial dan keterbatasan akses layanan paliatif. Menurut data Kementerian Kesehatan, hanya sekitar 10% pasien yang membutuhkan perawatan paliatif yang mendapatkannya. Kisah Esther menunjukkan pentingnya dukungan keluarga dan sikap positif dalam menghadapi kenyataan pahit.
Rebecca Wilcox menekankan bahwa setiap momen bersama ibunya adalah berharga. “Kami hanya sangat bersyukur memilikinya di sini,” ujarnya. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa di tengah keterbatasan medis, cinta dan kebersamaan keluarga menjadi obat yang tak ternilai. Pertanyaannya, mampukah sistem kesehatan Indonesia memberikan dukungan serupa bagi para pejuang kanker dan keluarganya?



