Piala Dunia 2026: Bisakah AS Buktikan Diri di Kandang Sendiri?
Baca dalam 60 detik
- Timnas AS menunjuk Mauricio Pochettino sebagai pelatih, namun hasil belum konsisten menjelang Piala Dunia 2026.
- Dukungan tuan rumah dan skuad bertalenta menjadi modal, tetapi rekor buruk melawan tim Eropa menjadi kekhawatiran.
- Christian Pulisic dan Folarin Balogun diharapkan menjadi kunci, sementara lini pertahanan masih rapuh.

Kembalinya Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia setelah 32 tahun disambut dengan ekspektasi tinggi. Namun, di balik gemerlap persiapan, timnas sepak bola pria AS (USMNT) masih bergulat dengan konsistensi performa di bawah asuhan Mauricio Pochettino.
Pelatih asal Argentina yang pernah menukangi Tottenham Hotspur dan Paris Saint-Germain itu dianggap sebagai pernyataan ambisi besar Federasi Sepak Bola AS. Namun, hasil-hasil yang diraih belum sepenuhnya meyakinkan. Kekalahan telak dari Belgia (5-2) dan Portugal (2-0) dalam laga uji coba Maret lalu menunjukkan jarak dengan elit Eropa masih lebar. Catatan pahit lainnya: sejak 2021, AS hanya sekali menang melawan tim Eropa, yakni saat menghadapi Bosnia-Herzegovina.
Meski begitu, status tuan rumah memberikan keuntungan historis. Dalam sejarah Piala Dunia, hanya dua tuan rumah yang gagal lolos dari fase grup: Afrika Selatan (2010) dan Qatar (2022). Dukungan penuh dari publik Amerika di stadion-stadion megah bisa menjadi pembeda. Apalagi, skuad kali ini diisi pemain-pemain muda enerjik seperti Antonee Robinson dan Sergino Dest di posisi sayap belakang, serta Folarin Balogun yang sedang on fire bersama Monaco dengan 11 gol dalam 14 pertandingan.
Christian Pulisic, yang dijuluki 'Captain America', tetap menjadi tumpuan utama. Namun, penampilannya yang kurang konsisten dalam setahun terakhir menjadi pertanyaan besar. Pochettino sendiri tengah berusaha membangun kembali reputasinya setelah kegagalan di Chelsea dan PSG. Ia harus segera menemukan formula tepat agar lini depan tajam dan pertahanan kokohโterutama dengan kiper muda Matt Freese yang minim pengalaman dan bek veteran Tim Ream yang sudah berusia 38 tahun.
Bagi Indonesia, kisah AS ini relevan sebagai gambaran bagaimana tekanan menjadi tuan rumah bisa memengaruhi performa. Timnas Indonesia pun suatu hari mungkin menghadapi situasi serupa jika dipercaya menggelar turnamen besar. Pelajaran dari AS: persiapan matang dan konsistensi adalah kunci, bukan sekadar nama besar pelatih atau pemain bintang.
Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi generasi emas AS. Mampukah mereka melampaui pencapaian terbaik di kandang sendiri pada 1994 (babak 16 besar)? Atau justru menjadi tuan rumah ketiga yang kandas di fase grup? Jawabannya akan terungkap dalam beberapa bulan ke depan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1126367/original/051295600_1454056697-8.jpg)
