Arsenal Kehilangan Kepala Medis: Dr Zafar Iqbal Angkat Kaki Setelah Dua Musim
Baca dalam 60 detik
- Dr Zafar Iqbal, kepala bidang kedokteran olahraga Arsenal, dipastikan hengkang setelah dua tahun menjabat, menyusul keputusan manajemen yang mengejutkan banyak pihak.
- Kepergian Iqbal terjadi di tengah rentetan cedera pemain kunci Arsenal musim ini, memicu spekulasi tentang efektivitas penanganan medis di klub.
- Proses rekrutmen pengganti sudah dimulai, sementara publik menanti dampak pergantian ini terhadap performa tim di musim depan.

Arsenal harus kembali merombak jajaran staf medisnya. Dr Zafar Iqbal, kepala bidang kedokteran olahraga yang baru bergabung pada 2024, dipastikan meninggalkan Emirates Stadium setelah hanya dua musim mengabdi. Keputusan ini diambil manajemen klub hanya beberapa hari setelah kekalahan Arsenal di final Liga Champions dari Paris Saint-Germain.
Menurut sumber internal klub, Iqbal telah diberitahu perihal pemutusan kerja sama dalam sebuah pertemuan pekan lalu. Meski alasan resmi belum diungkap, spekulasi mengarah pada tingginya angka cedera pemain inti Arsenal sepanjang musim ini. Beberapa nama seperti Bukayo Saka, Gabriel Jesus, dan Thomas Partey tercatat absen dalam periode krusial, yang diduga mempengaruhi evaluasi terhadap kinerja Iqbal.
Kepergian Iqbal terbilang mengejutkan mengingat reputasinya yang solid di sepak bola Inggris. Sebelum bergabung dengan Arsenal, ia pernah menangani tim medis Crystal Palace dan Liverpool. Ia juga menggantikan Gary O'Driscoll yang hengkang ke Manchester United pada 2024. Di kalangan internal, Iqbal dikenal sebagai sosok yang dihormati, dan beberapa staf mengaku sudah mencium ketidakpastian nasibnya dalam beberapa pekan terakhir.
Fenomena perombakan staf medis di klub-klub besar Eropa sebenarnya bukan hal baru. Di Indonesia, kasus serupa juga kerap terjadi di klub-klub Liga 1, di mana performa pemain yang menurun akibat cedera seringkali berujung pada evaluasi tim medis. Namun, keputusan Arsenal memecat Iqbal di tengah musim yang belum usai menunjukkan standar tinggi yang diterapkan klub-klub elite Eropa terhadap aspek kebugaran pemain.
“Kepergian Iqbal bisa menjadi sinyal bahwa Arsenal ingin pendekatan baru dalam menangani cedera, terutama setelah musim yang penuh dengan masalah fisik pemain,” ujar seorang analis olahraga yang enggan disebut namanya. “Ini juga menjadi ujian bagi manajemen untuk segera mendapatkan pengganti yang tepat sebelum musim depan dimulai.”
Bagi Arsenal, langkah ini menjadi bagian dari evaluasi besar pasca-kekalahan di final Liga Champions. Selain sektor medis, beberapa posisi lain juga dikabarkan akan mengalami perubahan. Para penggemar kini menanti apakah keputusan ini akan membawa perbaikan atau justru menimbulkan ketidakstabilan baru di tubuh klub.



