Lemak Trans Alami dari Susu Tidak Terkait Risiko Penyakit Jantung, Studi Terbaru Menegaskan
Baca dalam 60 detik
- Meta-analisis terhadap 22 studi menemukan bahwa lemak trans yang berasal dari produk susu tidak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular atau diabetes tipe 2.
- Para peneliti membedakan lemak trans alami (dari hewan ruminansia) dengan lemak trans industri yang telah dilarang di banyak negara karena efek buruknya.
- Temuan ini berpotensi mengubah kebijakan pelabelan pangan yang selama ini menyamakan kedua jenis lemak trans.

Kekhawatiran publik terhadap lemak trans selama ini mungkin perlu direvisi, setidaknya untuk jenis yang berasal dari susu dan produk olahannya. Sebuah tinjauan ilmiah terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nutrition Research menyimpulkan bahwa lemak trans yang terbentuk secara alami dalam produk susu tidak memiliki kaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner, stroke, kematian kardiovaskular, maupun diabetes tipe 2.
Tim peneliti dari University of Reading, Inggris, menganalisis data dari 22 studi yang melibatkan ribuan partisipan di Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat. Sepuluh di antaranya merupakan uji coba diet terkontrol, di mana partisipan mengonsumsi produk susu dengan kandungan lemak trans alami yang sengaja ditingkatkan—antara 1,3 hingga 13,2 gram per hari. Hasilnya tidak menunjukkan perubahan signifikan pada profil kolesterol atau penanda lipid darah lain dibandingkan konsumsi susu biasa. Sementara itu, 12 studi observasional jangka panjang—beberapa berlangsung lebih dari 20 tahun—juga tidak menemukan hubungan antara kadar lemak trans susu dalam darah dengan kejadian penyakit kardiovaskular atau diabetes.
Perbedaan struktural antara lemak trans alami dan buatan menjadi kunci utama. Ian Givens, profesor nutrisi di University of Reading yang memimpin studi, menjelaskan bahwa lemak trans industri diproduksi melalui hidrogenasi parsial minyak nabati, sementara lemak trans alami dihasilkan oleh mikroba dalam sistem pencernaan hewan ruminansia seperti sapi, domba, dan kambing. Meskipun sama-sama memiliki ikatan rangkap dalam konfigurasi trans, posisi ikatan rangkap pada rantai asam lemaknya berbeda, sehingga memengaruhi cara tubuh memetabolismenya.
Michelle Routhenstein, ahli diet kardiologi yang tidak terlibat dalam penelitian, menyatakan bahwa temuan ini sejalan dengan bukti sebelumnya. "Yang membedakan studi ini adalah pengukuran langsung penanda darah lemak trans susu, dan tetap tidak ditemukan hubungan bermakna dengan risiko penyakit kardiovaskular," ujarnya. Ia menambahkan bahwa produk susu mengandung campuran nutrisi kompleks—kalsium, protein, dan lemak jenuh—sehingga efek kesehatannya tidak bisa disederhanakan hanya dari kandungan lemak trans.
Implikasi dari studi ini cukup luas, terutama bagi kebijakan pelabelan pangan. Saat ini, banyak negara masih mencantumkan "lemak trans" secara total tanpa membedakan sumbernya. Givens menegaskan, "Batasan asupan lemak trans seharusnya hanya berdasarkan jumlah lemak trans industri, bukan total keseluruhan. Sudah ada metode cepat untuk membedakan keduanya." Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mewajibkan pencantuman kandungan lemak trans pada label pangan olahan sejak 2020, namun belum secara spesifik membedakan jenis alami dan buatan. Temuan ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi regulasi ke depan.
Bagi konsumen, pesan utamanya tetap pada pola makan secara keseluruhan. "Jika seseorang toleran terhadap susu dan menyukainya, produk susu dapat menjadi bagian dari diet sehat jantung asalkan dilengkapi dengan sayuran, buah, biji-bijian, dan kacang-kacangan," kata Routhenstein. Ia menekankan bahwa susu bukanlah keharusan; nutrisi seperti protein, kalsium, dan vitamin D bisa diperoleh dari sumber lain. Yang terpenting adalah membatasi produk susu olahan tinggi gula atau garam, serta memperhatikan apa yang digantikan oleh susu dalam pola makan sehari-hari.
Meski hasil ini melegakan, para peneliti mengingatkan bahwa masih diperlukan studi lebih lanjut untuk memahami mekanisme metabolisme lemak trans alami secara mendalam. Pertanyaan yang tersisa: akankah regulasi pangan global mulai membedakan "lemak trans jahat" dan "lemak trans netral"? Atau justru sebaliknya, konsumen tetap disarankan membatasi semua jenis lemak trans? Jawabannya mungkin akan bergantung pada bagaimana industri dan otoritas kesehatan merespons bukti ilmiah yang terus berkembang.



