Kevin Sinfield Tutup Kiprah Amalnya dengan Lari Ultramaraton 7 Hari: 'Grand Finale' untuk MND
Baca dalam 60 detik
- Mantan bintang rugby Kevin Sinfield mengumumkan tantangan amal ketujuh dan terakhirnya, lari 45 km per hari selama tujuh hari berturut-turut untuk mengumpulkan dana bagi riset penyakit saraf motorik (MND).
- Sejak 2020, Sinfield telah menggalang lebih dari £11 juta untuk MND, terinspirasi oleh rekan setimnya Rob Burrow yang meninggal pada Juni 2024 setelah berjuang melawan penyakit tersebut.
- Rute lari akan melintasi 12 stadion Super League Inggris, dari Hull ke Manchester, dan berakhir di Old Trafford tepat sebelum Grand Final Super League.

Kevin Sinfield, legenda rugby liga yang kini dikenal sebagai filantropis, mengumumkan tantangan amal terakhirnya: lari ultramaraton selama tujuh hari berturut-turut dengan jarak tempuh minimal 45 kilometer setiap harinya. Aksi yang diberi tajuk 7 in 7: The Grand Finale ini akan menjadi penutup rangkaian penggalangan dana yang telah ia lakukan sejak 2020 untuk memerangi penyakit saraf motorik (MND).
Pria berusia 45 tahun itu akan memulai perjalanannya pada 27 September dari Hull, melintasi Yorkshire, Greater Manchester, dan Merseyside, sebelum finis di Old Trafford, Manchester, pada 3 Oktober—tepat saat pertandingan Grand Final Super League. Sepanjang rute, Sinfield akan singgah di seluruh 12 stadion kandang klub Super League Inggris, termasuk AMT Headingley milik Leeds Rhinos, klub tempat ia menghabiskan seluruh karier profesionalnya.
Bagi Sinfield, misi ini bukan sekadar tantangan fisik. Sejak pertama kali ia menginisiasi aksi serupa pada 2020, total dana yang berhasil dikumpulkan telah melampaui £11 juta. Semua itu didedikasikan untuk mengenang sahabat dan rekan setimnya, Rob Burrow, yang meninggal dunia pada Juni 2024 setelah berjuang melawan MND selama empat setengah tahun. Keduanya bertemu di akademi Leeds Rhinos saat berusia 14 dan 12 tahun, lalu bersama-sama meraih tujuh gelar juara.
“Kami tidak bisa melakukan semua ini sendirian. Uang yang terkumpul telah membawa kami semakin dekat, tapi kami harus terus mendorong, terus berusaha menemukan obatnya,” ujar Sinfield dalam wawancara dengan BBC Breakfast. Ia juga menekankan peran tim di belakangnya yang menurutnya sangat tidak egois dalam menjalankan misi ini.
Rute harian telah dirancang dengan detail emosional. Pada hari ketiga, misalnya, Sinfield akan melewati dekat rumah Burrow di Pontefract—sebuah momen yang oleh Leeds Rhinos disebut sebagai “passing yang mengharukan”. Selain itu, setiap hari akan ada extra mile events yang memungkinkan orang-orang yang terdampak MND untuk bergabung berlari sejauh satu mil bersama Sinfield.
Bagi Indonesia, kisah Sinfield menjadi pengingat akan pentingnya solidaritas dan kegigihan dalam menghadapi penyakit langka. Meskipun MND belum banyak dikenal di Tanah Air, kasus serupa seperti ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) juga membutuhkan perhatian dan dana riset. Aksi Sinfield menunjukkan bagaimana seorang atlet bisa menggunakan pengaruhnya untuk mendorong perubahan sosial—sebuah pelajaran yang relevan bagi publik Indonesia yang tengah bergulat dengan tantangan kesehatan dan filantropi.
Setelah menyelesaikan tantangan ini, Sinfield mengisyaratkan bahwa ia akan pensiun dari aksi ultramaraton. Namun, pertanyaan besarnya: akankah semangat yang ia kobarkan mampu menginspirasi generasi baru untuk melanjutkan perjuangan melawan MND? Hingga obat benar-benar ditemukan, langkah-langkah kecil seperti ini mungkin tetap menjadi harapan terbesar bagi para penyintas dan keluarga mereka.



