Skotlandia di Piala Dunia 2026: BBC Ajak Fans Kirim Kenangan, Ada Pelajaran untuk Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- BBC kembali mengumpulkan konten amatir dari pendukung Skotlandia untuk dokumentasi perjalanan tim di Piala Dunia 2026.
- Inisiatif ini menyoroti kekuatan partisipasi publik dalam menciptakan narasi olahraga yang autentik dan emosional.
- Model kolaborasi semacam ini bisa menjadi inspirasi bagi federasi sepak bola Indonesia untuk mendekatkan timnas dengan basis penggemar.

Setelah sukses dengan program Through the Eyes of the Fans: Scotland v Denmark, BBC kembali membuka kesempatan bagi pendukung timnas Skotlandia untuk mengirimkan rekaman video, audio, dan foto selama Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Langkah ini bukan sekadar ajang nostalgia, melainkan strategi dokumentasi partisipatif yang mengubah cara media arus utama menyajikan peristiwa olahraga global.
Dalam pengumuman resminya, BBC mengundang para penggemar yang berada di stadion, dalam perjalanan menuju AS, atau yang menyaksikan pertandingan dari zona penggemar di kampung halaman untuk berbagi momen. Materi yang terkumpul akan digunakan dalam program khusus yang menceritakan kisah kampanye Skotlandia dari sudut pandang suporter. Pendekatan ini menempatkan penggemar sebagai subjek, bukan sekadar objek liputan.
Skotlandia tergabung dalam Grup B Piala Dunia 2026 bersama tim-tim kuat. Meski peluang lolos dari fase grup tipis, antusiasme pendukung tetap tinggi. BBC memanfaatkan euforia ini untuk menangkap energi kolektif yang sulit direproduksi oleh kamera profesional. Data dari program sebelumnya menunjukkan bahwa konten amatir justru memiliki tingkat keterlibatan emosional lebih tinggi di media sosial.
Bagi Indonesia, model ini menawarkan pelajaran berharga. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dan stasiun televisi nasional bisa mengadaptasi pendekatan serupa untuk turnamen seperti Piala Asia atau kualifikasi Piala Dunia. Selama ini, dokumentasi sepak bola Indonesia masih sangat bergantung pada siaran langsung dan wawancara formal. Padahal, basis penggemar sepak bola di Indonesia sangat besar dan aktif di media sosial. Menggandeng mereka sebagai kontributor konten bisa memperkuat ikatan emosional antara timnas dan publik.
Namun, tantangan utamanya adalah kurasi dan hak cipta. BBC memiliki tim editor yang menyaring materi agar sesuai standar siaran. Di Indonesia, perlu ada mekanisme serupa untuk memastikan konten yang dikirim tidak melanggar privasi atau mengandung unsur provokatif. Selain itu, insentif bagi pengirimโbaik berupa kredit nama, hadiah, atau kesempatan tampil di layar kacaโperlu dirancang agar partisipasi berkelanjutan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah PSSI atau lembaga penyiaran Indonesia berani mengambil langkah serupa? Dengan jumlah penggemar sepak bola yang mencapai puluhan juta, potensi konten amatir yang autentik sangat besar. Jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin dokumentasi partisipatif menjadi tren baru dalam liputan olahraga di Tanah Air, sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap timnas.



