Hong Myungbo Siap Catat Rekor Tujuh Piala Dunia, Bekuk Legenda Brasil
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Korea Selatan Hong Myungbo akan menjadi orang pertama yang tampil di tujuh edisi Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih, melampaui catatan Mario Zagallo.
- Ia menekankan agar generasi saat ini tidak terbebani oleh kesuksesan semifinal 2002, melainkan menikmati panggung Piala Dunia.
- Dengan banyaknya pemain Korea yang berkarier di Eropa, Hong optimistis timnya bisa menjadi kekuatan utama, bukan sekadar kuda hitam.
Pelatih kepala Korea Selatan, Hong Myungbo, bersiap mencetak sejarah sebagai individu pertama yang tampil di tujuh edisi Piala Dunia, baik sebagai pemain maupun pelatih—sebuah pencapaian yang bahkan tidak pernah diraih legenda Brasil, Mario Zagallo. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, Hong mengungkapkan pandangannya tentang turnamen yang akan datang, warisan semifinal 2002, dan peran kapten Son Heungmin.
Hong, yang kini berusia 55 tahun, memulai perjalanan Piala Dunianya pada 1990 di Italia saat usianya baru 21 tahun. Ia kemudian menjadi pilar di pertahanan Korea Selatan pada edisi 1994, 1998, dan 2002. Setelah gantung sepatu, ia kembali ke Jerman 2006 sebagai asisten pelatih Dick Advocaat, dan memimpin tim sebagai pelatih kepala di Brasil 2014. Kini, ia akan memimpin Taegeuk Warriors di Piala Dunia mendatang, menjadikannya peserta ketujuh.
Bagi Hong, Piala Dunia adalah mimpi setiap pemain sepak bola. Namun, ia mengingat bahwa perjalanan menuju turnamen terbesar ini tidak selalu mulus. “Tahun 1990-an adalah periode yang sangat sulit bagi Korea karena krisis keuangan. Pada 2002, negara baru saja mulai pulih. Orang-orang tampak kelelahan,” kenangnya. Timnya saat itu bertekad membawa kebahagiaan bagi rakyat Korea, dan hasilnya luar biasa: semifinal yang menyatukan seluruh bangsa.
Meski demikian, Hong tidak ingin pencapaian 2002 menjadi beban bagi generasi sekarang. “Beberapa pemain di skuad saat ini bahkan belum lahir saat kami mencapai semifinal. Itu seperti sejarah kuno bagi mereka,” ujarnya. Ia lebih banyak berbicara tentang tantangan ke depan daripada mengenang masa lalu. “Saya ingin mereka melihat Piala Dunia sebagai panggung untuk dinikmati, bukan ditakuti.”
Hong juga menyoroti perubahan mentalitas pemain Korea modern. Menurutnya, pengalaman bermain di Eropa telah menghilangkan rasa takut terhadap panggung dunia. “Jika pemain kami terus percaya diri dan membangun kepercayaan satu sama lain, saya yakin kami bisa menjadi salah satu tim top, bukan sekadar tim yang mampu membuat kejutan sesekali,” tegasnya.
Mengenai Son Heungmin, Hong berharap kaptennya itu tidak terlalu membebani diri sendiri. “Son adalah pemain berpengalaman yang tahu apa yang dibutuhkan di setiap tahap persiapan Piala Dunia. Saya berusaha meringankan bebannya sebisa mungkin,” kata Hong. Ia yakin Son akan memberikan kontribusi signifikan di turnamen mendatang.
Bagi sepak bola Indonesia, perjalanan Korea Selatan ini memberikan pelajaran berharga. Investasi pada pemain muda dan pengiriman mereka ke liga-liga Eropa terbukti mampu mengangkat level kompetitif sebuah tim nasional. Dengan mentalitas pantang menyerah dan pengalaman internasional, Korea Selatan kini tidak lagi sekadar peserta, melainkan calon pengganggu papan atas. Pertanyaannya, mampukah mereka mengulang keajaiban 2002, atau bahkan melampauinya?



