Pink dan Fobia Ketinggian: Mengapa Justru Aksi Udara yang Membebaskan
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Pink mengakui memiliki fobia ketinggian parah, namun justru menjadikan aksi udara sebagai elemen inti pertunjukannya.
- Baginya, menghadapi ketakutan justru memberikan kebebasan dan kegembiraan yang tak tergantikan, terutama saat melihat reaksi penonton.
- Pink akan membawakan aksi akrobatik dalam perannya sebagai pembawa acara Tony Awards, sekaligus pindah ke New York demi mendukung minat teater putrinya.

Penyanyi pop rock Pink justru memilih terbang tinggi di atas panggung sebagai bentuk pelarian dari fobia ketinggian yang dideritanya. Dalam wawancara dengan Late Night with Seth Meyers, pelantun "So What" itu mengaku bahwa justru rasa takut itulah yang membuatnya terus melakukan aksi udara spektakuler dalam setiap konser.
Pink menceritakan pengalaman traumatis saat suaminya, Carey Hart, mengemudi di tepi jurang. "Saya berkata, 'Hentikan mobil atau aku tidak akan pernah bicara padamu lagi.' Saya harus turun dan berjalan kaki. Saya tidak bisa menghadapi ketinggian," ujarnya. Ironisnya, justru ketakutan inilah yang mendorongnya untuk terus melakukan aksi udara. "Saya percaya pada merasakan ketakutan dan tetap melakukannya," tambahnya.
Bagi pelantun "Get the Party Started" ini, aksi udara bukan sekadar pertunjukan, melainkan terapi. "Ini sangat membebaskan. Ibu saya pernah bertanya, 'Kapan kamu akan berhenti terbang?' Saya jawab, 'Kenapa harus?'" kata Pink. Ia mengaku bahwa momen saat ia melayang di udara dan melihat penonton terpukau—termasuk pria dewasa yang berubah seperti anak kecil—adalah kebahagiaan tersendiri. "Itulah mengapa saya merasa bosan di rumah," selorohnya.
Pendekatan Pink ini menarik perhatian para psikolog. Menurut Dr. Amanda K. Smith, psikolog klinis di Jakarta, "Menghadapi fobia dengan cara yang terkontrol justru dapat menjadi terapi eksposur yang efektif. Namun, penting untuk melakukannya dengan panduan profesional agar tidak memperparah trauma." Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental semakin meningkat, namun masih jarang figur publik yang secara terbuka membahas fobia mereka dengan cara yang inspiratif seperti Pink.
Pekan ini, Pink akan menjadi pembawa acara Tony Awards, ajang penghargaan teater bergengsi di Amerika Serikat. Ia menjanjikan "momen akrobatik" yang berbeda dari biasanya. "Akan ada 170 orang di atas panggung. Ini akan sangat menyenangkan," ujarnya dalam wawancara dengan CBS Mornings. Pink juga mengaku bahwa ia akan tampil "konyol" sejak awal, yang menurutnya penting untuk menunjukkan sisi manusiawinya.
Kepindahan keluarganya ke New York juga tak lepas dari passion putrinya, Willow, terhadap teater. "Kami pindah ke sini karena saya adalah ibu yang luar biasa. Willow bisa belajar teater dan merasakan Broadway lebih dekat," kata Pink saat menjadi pembawa acara tamu di The Kelly Clarkson Show. Langkah ini menunjukkan bahwa di balik persona panggung yang liar, Pink adalah ibu yang mendukung mimpi anak-anaknya.
Pertanyaan besarnya, akankah Pink terus menantang batas ketakutannya di masa depan? Atau suatu saat ia akan memutuskan untuk "mendarat" selamanya? Yang jelas, bagi Pink, terbang di atas panggung bukan sekadar aksi, melainkan pernyataan bahwa ketakutan tidak harus menghentikan kita untuk mencapai hal-hal luar biasa.



