Setahun Setelah Air India Jatuh di Ahmedabad: Bangunan Rusak Itu Masih Berdiri, Luka Tak Kunjung Sembuh
Baca dalam 60 detik
- Kecelakaan Air India di Ahmedabad Juni lalu menewaskan 260 orang, 19 di antaranya warga di darat yang sedang berada di kompleks asrama BJ Medical College.
- Bangunan asrama yang hancur masih dibiarkan berdiri setahun kemudian, menjadi pengingat harian bagi mahasiswa dan warga sekitar yang harus beraktivitas di bawah deru pesawat.
- Keluarga korban darat, seperti Prahlod Thakur, masih berjuang melanjutkan hidup, sementara investigasi penyebab kecelakaan segera dirilis.

Setahun setelah pesawat Air India jatuh menimpa kompleks asrama BJ Medical College di Ahmedabad, bangunan berlantai atas yang robek itu masih berdiri—seperti luka yang tak kunjung dijahit. Bagi Prahlod Thakur, foto istri dan cucunya yang tergantung di dinding rumahnya adalah pengingat pertama setiap pagi bahwa 19 orang tewas di darat, bukan di dalam pesawat.
Thakur kehilangan Sarlaben, istrinya, dan Aadhya, cucu perempuannya yang baru berusia dua tahun. Keduanya berada di dalam mess kampus saat pesawat tujuan London itu jatuh pada Juni tahun lalu. Thakur yang sedang bekerja di gedung lain berlari ke lokasi, tetapi baru enam hari kemudian ia menemukan jasad mereka di kamar mayat rumah sakit. "Setiap kali pesawat lewat, rasa sakit yang sama muncul lagi. Kami bahkan tidak lagi melihat ke langit," ujarnya.
Kecelakaan itu menewaskan total 260 orang—241 penumpang dan awak pesawat, serta 19 orang di darat. Sebagian besar perhatian publik selama setahun terakhir tertuju pada misteri di balik jatuhnya pesawat. Namun di kampus BJ Medical College, pertanyaan lain mengemuka: bagaimana sebuah tempat melanjutkan hidup setelah tragedi menjadi bagian dari keseharian?
Bangunan asrama yang dihantam pesawat masih menyisakan pemandangan mengerikan: lantai atas terbuka ke langit, beton menggantung, tangga hitam oleh asap, dan puing-puing berserakan. Mahasiswa setiap hari melewati reruntuhan itu dalam perjalanan ke ruang kuliah, sementara pesawat melintas di atas kepala setiap beberapa menit. Suara yang dulu biasa kini membawa makna berbeda. "Kami tidak lagi menatap langit," kata Thakur.
Arman Khan Pathan dan Aditya Dayal, dua mahasiswa kedokteran yang selamat, masih mengingat detik-detik ketika mess tempat mereka makan runtuh. Arman terjepit meja, memecahkan jendela dengan tangan kosong, dan akhirnya dievakuasi oleh Aditya serta mahasiswa lain. "Gelap pekat, saya sesak napas," kenang Arman. Bagi mereka, bau mayat hangus masih kerap muncul tiba-tiba, memicu mual. Brijesh, mahasiswa lain yang mengalami luka bakar, masih menjalani fisioterapi dan memakai pakaian tekan di tengah panas Ahmedabad.
Dekan BJ Medical College, Meenakshi Parikh, mengaku harus menjalankan kampus di tengah duka yang luar biasa. Ia mengingat seorang ayah yang kehilangan putra, menantu, dan cucu, menolak meninggalkan rumah sakit sebelum melihat jasad mereka. "Mata saya adalah tes DNA," kata pria itu kepada petugas. Parikh mengatakan tidak ada satu momen pun ketika ia merasa telah memproses tragedi itu. "Ini proses bertahap untuk kembali ke kehidupan," ujarnya.
Menjelang peringatan setahun pada 12 Juni, kampus berencana mengadakan doa bersama, donor darah, dan penanaman pohon. Namun bagi Thakur, bergerak maju bukan berarti melupakan. Ia masih sering memutar video sehari sebelum kecelakaan, di mana Aadhya menyuapi neneknya. Di luar, pesawat lain melintas di langit Ahmedabad—pengingat bahwa bagi sebagian orang, langit tak lagi menjadi tempat yang aman untuk dipandang.



