12,9 Juta Pelajar China Ikuti Ujian Gaokao: Antara Ambisi dan Kelelahan Mental
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 12,9 juta siswa China mengikuti ujian masuk perguruan tinggi nasional (Gaokao) yang dimulai pekan ini, dengan tekanan tinggi akibat persaingan ketat dan angka pengangguran muda yang mencapai 16%.
- Meski Gaokao masih menjadi penentu utama masuk universitas, semakin banyak orang tua dan siswa yang mulai mempertanyakan dampak kesehatan mental dari sistem ujian yang melelahkan ini.
- Perubahan sikap ini mencerminkan pergeseran sosial di China, di mana kesejahteraan psikologis mulai diutamakan di atas ambisi akademis, meskipun penghapusan Gaokao masih dianggap mustahil.

Ribuan pelajar China dengan pena dan kartu identitas di tangan berdesakan memasuki pusat ujian di Beijing yang cerah, ditemani orang tua yang memadati area sekitar. Mereka bergabung dengan 12,9 juta peserta lain yang terdaftar mengikuti Gaokao, ujian masuk perguruan tinggi nasional yang menentukan masa depan sebagian besar remaja di negeri Tirai Bambu.
Ujian multi-hari yang dimulai kemarin ini menguji kemampuan peserta dalam mata pelajaran Bahasa China, Matematika, Bahasa Inggris, Sains, dan Humaniora. Hasil nilai akan diumumkan akhir bulan ini. Bagi sebagian besar siswa, Gaokao adalah satu-satunya faktor penentu penerimaan di universitas China, menjadikannya momen paling menegangkan dalam kehidupan akademis mereka.
“Ini pertama kalinya saya ikut, jadi agak cemas,” ujar Zhang Xinnan, seorang pelajar Beijing berkacamata, sesaat sebelum memasuki ruang ujian. Ia mengaku gugup menghadapi bagian esai Bahasa China karena merasa topik yang diberikan semakin sulit. Namun, remaja 18 tahun yang mengenakan seragam sekolah itu optimistis bisa meraih hasil baik setelah setahun penuh berlatih soal-soal latihan. “Hal-hal yang perlu dikuasai sudah kami kuasai. Masuk saja dengan percaya diri, pasti kuat,” katanya, yang bercita-cita bekerja di industri kendaraan energi baru.
Di luar gedung ujian, puluhan orang tua mengenakan pakaian berwarna merah—simbol keberuntungan dalam budaya China—sambil merekam momen anak mereka memasuki ruang ujian. Petugas kepolisian dan keamanan berjaga di sekitar lokasi. Pemandangan ini menjadi gambaran betapa besarnya harapan yang disematkan pada Gaokao, meskipun realitas ketenagakerjaan bagi lulusan baru tidak lagi secemerlang dulu. Data resmi menunjukkan sekitar satu dari enam pemuda China berusia 16-24 tahun (di luar pelajar) menganggur.
Sikap terhadap ujian ini mulai berubah. Semakin banyak siswa dan orang tua yang enggan mengorbankan kesehatan fisik dan mental demi nilai tinggi. “Saya cukup santai,” ujar Deng Ju, seorang ibu berusia 53 tahun yang berdiri di seberang gedung ujian sambil memegang tumpukan buku latihan untuk putrinya. “Lakukan yang normal saja, itu sudah cukup. Saya lebih peduli pada kesehatan fisik; ujian hanya formalitas.” Deng mengaku akan lebih ideal jika Gaokao dihapuskan, meskipun ia sadar hal itu mustahil. “Tidak ada lagi Gaokao. Jangan ada Gaokao lagi. Tapi itu tidak mungkin,” katanya sambil tersenyum.
Bagi sebagian besar pelajar Beijing, Gaokao tetap menjadi langkah menuju mimpi mereka. “Saya berharap bisa masuk universitas impian saya,” ujar Zhang. Namun, pergeseran nilai di kalangan orang tua dan siswa China patut dicermati. Di tengah tekanan akademis yang luar biasa, muncul kesadaran bahwa kesehatan mental dan fisik tidak bisa dikorbankan begitu saja. Pertanyaan besarnya: akankah sistem pendidikan China mampu beradaptasi dengan perubahan sikap ini, atau Gaokao akan terus menjadi momok yang tak terhindarkan?



