Sean Penn Akhirnya Nikmati Oscar: Hadir di Ukraina, Bukan di Panggung
Baca dalam 60 detik
- Sean Penn memenangkan Oscar ketiganya untuk aktor pendukung terbaik, namun memilih tidak hadir dan pergi ke Ukraina.
- Aktor 65 tahun itu mengaku baru pertama kali benar-benar menikmati malam Oscar karena terbebas dari kecemasan sosial.
- Penn kini menerapkan aturan ketat: tidak akan menghadiri acara dengan lebih dari delapan orang, termasuk menolak selfie.

Sean Penn akhirnya merasakan kenikmatan memenangkan Piala Oscar untuk pertama kalinya dalam kariernya—bukan karena trofi ketiganya, melainkan karena ia tidak hadir di upacara penghargaan tersebut. Aktor 65 tahun itu memilih terbang ke Ukraina menemui Presiden Volodymyr Zelenskyy dan melanjutkan misi kemanusiaannya, alih-alih duduk di antara gemerlap Dolby Theatre.
Penn, yang sebelumnya meraih Aktor Terbaik untuk Mystic River (2004) dan Milk (2009), tahun ini membawa pulang Piala Aktor Pendukung Terima kasih atas perannya di One Battle After Another. Namun, ia mengaku telah berdiskusi dengan rekan-rekan filmnya sebelum Academy Awards dan mereka sepakat bahwa tidak hadir adalah pilihan terbaik bagi kesehatan mentalnya. Ia tetap menonton siaran langsung dari Ukraina pada dini hari.
Dalam acara Storytellers di Tribeca Film Festival, New York, Penn mengungkapkan, “Untuk pertama kalinya saya benar-benar menikmati Academy Awards. Luar biasa. Sebelumnya, perasaan terbaik yang bisa saya raih hanyalah lega.” Ia menambahkan bahwa ia sempat menghadiri Golden Globes tahun ini—pengalaman pertamanya—dan di situlah ia memutuskan, “Saya tidak bisa melakukan ini lagi.”
Bintang The Tree of Life itu menjelaskan bahwa kecemasan sosialnya bukan sekadar soal acara penghargaan. “Sama saja jika kelompok ini pergi ke pesta dan seseorang melangkah ke dalamnya. Itu selalu mewakili ketidaknyamanan sosial bagi saya; terlalu banyak orang,” katanya. Ia berkomitmen seumur hidup untuk tidak pergi ke mana pun dengan kelompok yang terdiri dari lebih delapan orang. “Bukan soal ‘Saya tidak ingin berada di sekitar Hollywood palsu’ atau semacamnya. Dua kali saya hadir, saya hanya merasa lega karena menang—karena banyak orang yang bekerja keras untuk itu. Ada politik di dalamnya.”
Tak hanya soal kerumunan, Penn juga bersikap tegas terhadap budaya selfie. Ia mengaku tidak pernah mau berfoto selfie dengan siapa pun, dalam kondisi apa pun. “Selfie itu buruk bagi Anda, buruk bagi semua orang. Ini pengisap jiwa,” ujarnya. Bahkan ketika ditanya apakah ia akan menolak seorang nenek korban Holocaust yang menggunakan kursi roda bersama cucu lumpuh, jawabannya tetap: “Tidak.”
Pernyataan Penn ini menjadi pengingat bahwa tekanan sosial di industri hiburan bisa sangat nyata, bahkan bagi aktor sekelasnya. Bagi publik Indonesia yang akrab dengan budaya fanatisme dan permintaan foto, sikap Penn mungkin terkesan ekstrem. Namun, di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, batasan pribadi seperti ini justru mulai dipahami sebagai bentuk perlindungan diri. Apakah tren “menolak selfie” dan membatasi interaksi sosial akan diadopsi lebih luas, atau tetap menjadi hak istimewa selebritas?



