Luka Batin di Balik Tato Mungil: Petualangan Maja Chwalinska di Roland Garros
Baca dalam 60 detik
- Maja Chwalinska, petenis Polandia yang nyaris pensiun karena depresi, kini melaju ke final Prancis Terbuka 2025 setelah mengalahkan Diana Shnaider.
- Tato 'free' di tangannya menjadi simbol kebebasan mental yang ia temukan setelah menjalani terapi dan olahraga, memisahkan tekanan karier dari kehidupan pribadi.
- Jika menang atas Mirra Andreeva, Chwalinska akan menjadi petenis kualifikasi pertama yang juara Grand Slam sejak Emma Raducanu, sekaligus meneruskan tradisi 'Poland Garros'.

Maja Chwalinska, petenis Polandia berusia 24 tahun, hanya butuh satu kemenangan lagi untuk mengukir sejarah di Roland Garros. Namun, perjalanannya ke final Prancis Terbuka 2025 bukanlah cerita biasa—ia nyaris meninggalkan olahraga ini selamanya karena depresi berat.
Lima tahun lalu, Chwalinska memutuskan jeda tanpa batas setelah tersingkir di babak kualifikasi Wimbledon. Depresi membuatnya tak mampu bangun dari tempat tidur, kehilangan semangat hidup, dan tidak yakin akan kembali ke lapangan. Ia pulang ke rumah orangtuanya dan mencari bantuan profesional. Proses pemulihan meliputi lari dan tinju, hingga akhirnya setelah empat bulan ia memutuskan kembali ke tenis.
Kini, di Paris, Chwalinska tampil sebagai pemain kualifikasi yang tak terkalahkan dalam sembilan pertandingan berturut-turut. Ia mengalahkan mantan semifinalis Maria Sakkari, juara Olimpiade Zheng Qinwen, serta tiga unggulan: Diana Shnaider, Anna Kalinskaya, dan Elise Mertens. Gaya bermainnya yang penuh variasi—lob, drop shot, moonball, ditambah pukulan keras—membuat lawan frustrasi. "Saya merasa seperti dalam gelembung. Saya hanya sangat bahagia berada di sini," ujarnya.
Di tangan kirinya, tersemat tato kecil bertuliskan 'free'. Chwalinska enggan mengungkap maknanya, hanya berkata, "Saya akan menyimpannya sendiri. Anda bisa membuat cerita sendiri." Namun, kata itu seolah merangkum transformasinya: dari terbelenggu depresi hingga bermain dengan kebebasan dan kegembiraan yang memikat penonton Paris. Ia belajar memisahkan karier—yang dulu ia kaitkan dengan "tekanan, stres, dan tangisan"—dari kehidupan pribadi.
Dukungan ribuan penggemar Polandia di Court Philippe Chatrier turut mendorongnya melewati semifinal. Menariknya, banyak dari mereka yang membeli tiket jauh-jauh hari karena mengira Iga Swiatek, juara empat kali, akan bermain. Swiatek absen di semifinal untuk pertama kalinya sejak 2019, namun Chwalinska mengisi kekosongan itu dengan gemilang. Keduanya berteman dekat sejak junior, bahkan memulai debut profesional di turnamen ITF Zawada, Polandia, pada 2015.
Final melawan unggulan kedelapan asal Rusia, Mirra Andreeva, akan menjadi puncak perjuangan Chwalinska. Bagi Indonesia, kisah ini mengingatkan bahwa tekanan mental dalam olahraga kompetitif bisa menghancurkan karier, namun pemulihan yang tepat dan dukungan lingkungan dapat melahirkan kebangkitan luar biasa. Petenis Tanah Air yang bergelut dengan masalah serupa bisa menjadikan perjalanan Chwalinska sebagai inspirasi.
Satu pertanyaan menggantung: mampukah Chwalinska mengulang keajaiban Raducanu dan membawa pulang gelar Grand Slam pertamanya? Atau akankah Andreeva, yang lebih muda dan juga tampil impresif, menjadi penghadang? Apa pun hasilnya, Chwalinska telah membuktikan bahwa kebebasan sejati lahir dari keberanian menghadapi kegelapan.



