12,9 Juta Pelajar China Hadapi Gaokao di Tengah Tekanan Ekonomi dan Perubahan Sikap
Baca dalam 60 detik
- Ujian masuk perguruan tinggi China, gaokao, diikuti 12,9 juta peserta pada Juni 2026, menjadi penentu tunggal akses ke universitas.
- Di balik kesuksesan akademik, angka pengangguran pemuda China mencapai 1 dari 6 orang, memicu pergeseran prioritas dari nilai ke kesehatan mental.
- Topik AI dan adaptasi teknologi masuk dalam soal ujian, mencerminkan upaya pendidikan mengikuti perubahan zaman.

Sebanyak 12,9 juta pelajar di China mengikuti ujian nasional masuk perguruan tinggi, gaokao, yang dimulai pada Minggu (7/6/2026) di tengah sorotan terhadap tekanan akademik dan perubahan ekspektasi sosial. Ujian multi-hari ini menjadi gerbang tunggal bagi sebagian besar siswa untuk melanjutkan ke universitas, namun di balik antusiasme orang tua yang mengenakan pakaian merah simbol keberuntungan, tersimpan kegelisahan akan masa depan lapangan kerja yang semakin sempit.
Gaokao tahun ini menguji mata pelajaran Bahasa Mandarin, Matematika, Bahasa Inggris, Sains, dan Humaniora. Nilai akan diumumkan akhir bulan ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pengamanan diperketat dengan larangan membawa kacamata pintar dan jam tangan pintar ke lokasi ujian yang diawasi kamera. Otoritas pendidikan juga meningkatkan patroli polisi dan petugas keamanan di sekitar tempat ujian.
Namun, yang menarik perhatian adalah perubahan sikap sebagian orang tua dan siswa. Ibu Deng Ju, 53 tahun, yang menunggu putrinya di luar gedung ujian, mengaku lebih mementingkan kesehatan fisik daripada skor ujian. "Cukup tampil normal saja. Ujian hanya formalitas," ujarnya. Ia bahkan berharap gaokao dihapuskan, meski sadar hal itu mustahil. Sikap serupa juga diungkapkan siswa Zhang Xinnan, 18 tahun, yang mengaku gugup namun percaya diri setelah setahun berlatih soal. "Mental adalah yang terpenting dalam gaokao," katanya.
Konteks ekonomi menjadi latar belakang yang tak terpisahkan. Ekspansi pendidikan tinggi di China selama beberapa dekade terakhir telah meningkatkan standar hidup dan harapan orang tua. Namun, pasar kerja bagi lulusan baru tidak lagi secerah dulu. Data resmi menunjukkan sekitar satu dari enam pemuda China usia 16-24 tahun menganggur, tidak termasuk mereka yang masih bersekolah. Kondisi ini mendorong sebagian keluarga untuk tidak lagi mengorbankan kesehatan fisik dan mental demi nilai ujian semata.
Soal ujian tahun ini juga mencerminkan isu-isu kontemporer. Di Beijing, peserta diminta menulis slogan untuk kegiatan kecerdasan buatan (AI) yang menyasar para pensiunan di panti jompo. Sementara di Shanghai, siswa harus menulis esai 800 kata tentang bagaimana teknologi membentuk kembali dunia dan imajinasi manusia. Topik-topik ini menunjukkan bahwa gaokao tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan adaptasi terhadap perubahan.
Bagi Indonesia, fenomena gaokao memberikan pelajaran tentang keseimbangan antara prestasi akademik dan kesejahteraan mental. Sistem pendidikan Indonesia yang juga mengandalkan ujian nasional serupa (UN) pernah menuai kritik serupa. Tekanan untuk masuk perguruan tinggi negeri favorit kerap memicu stres berlebihan pada siswa. Tren di China yang mulai mengutamakan kesehatan mental bisa menjadi refleksi bagi kebijakan pendidikan di Tanah Air.
Ke depan, gaokao kemungkinan akan terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja. Namun, pertanyaan mendasar tetap ada: akankah sistem seleksi tunggal ini mampu menjawab tantangan kesenjangan keterampilan dan kesejahteraan psikologis generasi muda? Atau justru akan semakin ditinggalkan oleh masyarakat yang mulai sadar akan pentingnya kualitas hidup?



