Pangeran William Serukan Perlindungan Pub: Lebih dari Sekadar Tempat Nongkrong
Baca dalam 60 detik
- Pangeran William menyebut pub sebagai perekat sosial yang perlu dilindungi, di tengah penutupan ribuan pub di Inggris.
- Dalam kunjungan ke Prince of Peckham, ia memuji inisiatif Chatty Patty yang memerangi kesepian dan memperkuat komunitas.
- Data menunjukkan satu pub tutup setiap hari di Inggris dan Wales, mendorong seruan untuk merevitalisasi ruang publik.

Pangeran William, pewaris takhta Kerajaan Inggris, menegaskan bahwa pub bukan sekadar tempat minum, melainkan fondasi sosial yang harus dijaga kelestariannya. Dalam kunjungan ke Prince of Peckham di London tenggara, Rabu (3/6), ia menyebut pub sebagai "lem dan kain" yang menyatukan komunitas lokal.
Di hadapan para pengunjung tetap, William yang berusia 43 tahun itu menyatakan kecintaannya pada pub dan berjanji akan melakukan segala cara untuk mendukungnya. "Saya bisa tinggal di sini selamanya," ujarnya sambil memuji pemilik Clem Ogbonnaya yang menjadikan pub sebagai usaha keluarga. Ia menambahkan, "Orang-orang dan tim di sekitar pub lah yang membuatnya istimewa."
Kunjungan ini menyoroti peran pub sebagai ruang inklusif. William bergabung dengan klub sarapan Chatty Patty yang digagas untuk mengatasi kesepian, di mana ia mencoba menarik bir dan menyantap hidangan lokal. "Ini luar biasa. Saya berharap Deliveroo bisa mengantarkan ini ke Windsor," candanya tentang jerk chicken yang ia cicipi.
Pemilik pub, Clem Ogbonnaya, menekankan bahwa pub adalah "ruang yang sangat kurang dimanfaatkan" dan berpotensi besar memperkuat kohesi sosial. Ia berharap inisiatif seperti Chatty Patty dapat diperluas ke seluruh London, terutama untuk menjangkau pemuda kulit hitam yang terpinggirkan. "Kuncinya adalah bagaimana menciptakan lebih banyak ruang dengan energi dan semangat seperti ini," ujarnya.
Ini bukan kali pertama William menunjukkan dukungan pada pub. Pada Januari lalu, ia dan istrinya Catherine mengunjungi The Gothenberg di Skotlandia, sebuah pub yang menyumbangkan keuntungannya untuk perumahan subsidi bagi pemuda. Saat itu, William menekankan pentingnya interaksi tatap muka di tengah dominasi layar gawai. "Ini tentang kontak manusia, bukan sekadar ponsel atau TV," katanya.
Di Indonesia, fenomena serupa terjadi pada warung kopi dan ruang publik informal yang mulai tergerus oleh pusat perbelanjaan modern. Para sosiolog menilai bahwa ruang semacam ini penting untuk menjaga modal sosial, terutama di perkotaan yang semakin individualistis. Seruan Pangeran William bisa menjadi pengingat bahwa melindungi tempat nongkrong tradisional adalah investasi sosial jangka panjang.
Dengan angka penutupan pub yang mengkhawatirkan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah inisiatif komunitas seperti Chatty Patty membalikkan tren ini, atau akankah pub hanya tinggal kenangan?



