Maroko di Piala Dunia 2026: Misi Buktikan Prestasi Qatar 2022 Bukan Kebetulan
Baca dalam 60 detik
- Maroko lolos ke Piala Dunia 2026 untuk ketiga kalinya berturut-turut, sebuah capaian baru bagi negara Afrika Utara tersebut.
- Tim Singa Atlas akan diperkuat sembilan pemain yang membawa mereka ke semifinal Qatar 2022, plus debutan remaja Ayyoub Bouaddi.
- Pelatih baru Mohamed Ouahbi, yang sukses di Piala Dunia U-20 2025, ditantang membuktikan konsistensi di turnamen utama.
Maroko akan menjadi salah satu tim yang paling dinantikan di Piala Dunia 2026 setelah penampilan bersejarah mereka di Qatar 2022. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Singa Atlas lolos ke tiga edisi Piala Dunia berturut-turut, dan kini mereka bertekad membuktikan bahwa capaian semifinal dua tahun lalu bukan sekadar keberuntungan sesaat.
Pelatih baru Mohamed Ouahbi, yang ditunjuk pada Maret 2026 menggantikan Walid Regragui, memiliki tugas berat. Pria kelahiran Belgia berusia 49 tahun itu sebelumnya sukses membawa Maroko juara Piala Dunia U-20 2025 dengan mengalahkan Argentina di final. Ia juga pernah menangani pusat pelatihan RSC Anderlecht dan memenangi Kejuaraan U-17 Belgia pada 2018. Ouahbi hanya memiliki waktu kurang dari 100 hari untuk mempersiapkan tim menghadapi turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Regragui, pendahulunya, meninggalkan warisan yang sulit ditandingi. Dalam waktu singkat setelah diangkat pada Agustus 2022, ia membawa Maroko menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia. Prestasi itu diikuti dengan kemenangan 2-1 atas Brasil dalam laga persahabatan pada Maret 2023, menjadikan Maroko negara Arab pertama yang mengalahkan tim Samba. Namun, kegagalan di Piala Afrika 2023 (tersingkir di 16 besar) dan kekalahan dramatis di final Piala Afrika 2025 dari Senegal menjadi catatan yang harus diperbaiki Ouahbi.
Untuk Piala Dunia 2026, Ouahbi memanggil sembilan pemain yang menjadi bagian dari skuad Qatar 2022, termasuk kiper Yassine Bounou, bek Nayef Aguerd, gelandang Sofyan Amrabat, dan bek kanan Achraf Hakimi. Satu nama baru yang menarik perhatian adalah gelandang Lille berusia 18 tahun, Ayyoub Bouaddi, yang akan menjalani debut di turnamen besar. Maroko tergabung di Grup E bersama Brasil, Skotlandia, dan Haiti, dengan jadwal pertandingan melawan Brasil (13 Juni di New York/New Jersey), Skotlandia (19 Juni di Boston), dan Haiti (24 Juni di Atlanta).
Perjalanan Maroko di Piala Dunia dimulai pada 1970 di Meksiko, saat mereka menjadi satu-satunya wakil Afrika. Meski tersisih di fase grup, mereka mampu menahan imbang Bulgaria 1-1. Puncak kejayaan pertama terjadi pada 1986, ketika Maroko menjadi tim Afrika pertama yang lolos ke babak gugur setelah memuncaki grup, sebelum akhirnya kalah 1-0 dari Jerman Barat berkat gol tendangan bebas Lothar Matthäus pada menit ke-88. Pada 1998, mereka mencatat kemenangan terbesar 3-0 atas Skotlandia, namun gagal melaju karena hasil pertandingan lain.
Bagi Indonesia, perjalanan Maroko menjadi inspirasi sekaligus pelajaran. Sebagai sesama negara berkembang sepak bola, keberhasilan Maroko menunjukkan bahwa investasi pada pembinaan usia muda dan keberanian merekrut pelatih berprestasi di level junior dapat membuahkan hasil di panggung dunia. Kehadiran Ouahbi yang sebelumnya sukses di level U-20 menjadi contoh bagaimana regenerasi kepelatihan bisa berjalan mulus. Jika Maroko mampu kembali menembus babak semifinal atau bahkan lebih, hal itu akan memperkuat posisi Afrika dalam peta sepak bola global dan membuka peluang bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, untuk bermimpi lebih besar.
Pertanyaan besarnya: dapatkah Ouahbi mempertahankan semangju juang yang ditunjukkan Regragui, atau justru tekanan untuk membuktikan konsistensi akan menjadi bumerang? Dengan sembilan pemain senior yang sudah berpengalaman dan tambahan energi muda, Maroko memiliki kombinasi yang menarik. Namun, persaingan di Grup E—terutama melawan Brasil dan Skotlandia—akan menjadi ujian sesungguhnya apakah Singa Atlas benar-benar siap menjadi kekuatan baru di sepak bola dunia.



