Evolusi Lionel Messi: Dari Sayap Muda ke Veteran yang Tak Lagi Berlari
Baca dalam 60 detik
- Messi bersiap tampil di Piala Dunia keenamnya pada usia 38 tahun, setelah melalui setidaknya lima transformasi peran sejak debut di Barcelona.
- Dari false nine di era Guardiola hingga playmaker dalam yang mengatur serangan, setiap adaptasi membuatnya tetap dominan meski fisik menurun.
- Kini di Inter Miami, Messi lebih banyak berjalan daripada berlari, mengandalkan pembacaan permainan untuk menentukan momen krusial.

Lionel Messi akan memasuki Piala Dunia 2026 sebagai pemain tertua di skuad Argentina, namun bukan sebagai pemanis statistik. Jika Argentina ingin menjadi negara pertama sejak 1962 yang mempertahankan gelar juara dunia, Messi tetap menjadi poros utama. Bedanya, pemain berusia 38 tahun itu kini hadir dalam wujud yang sama sekali berbeda dari remaja yang mengguncang dunia dua dekade lalu.
Sejak debutnya bersama Barcelona pada 2003, Messi telah melalui setidaknya lima fase transformasi. Bukan sekadar adaptasi terhadap penurunan fisik, melainkan penciptaan ulang identitas agar tetap menjadi yang terdepan. Saat Ronaldinho melihatnya berlatih untuk pertama kali, ia berkata, "Dia akan menjadi yang terbaik." Prediksi itu terbukti, namun jalan menuju puncak tidaklah linier.
Pada 2 Mei 2009, Pep Guardiola mengambil keputusan radikal: menarik Messi dari sayap kanan dan menempatkannya di ujung tombak tanpa peran striker tradisional. Hasilnya, Barcelona menghancurkan Real Madrid 6-2 di Bernabéu. Lahirlah false nine modern. Messi diajarkan untuk turun, menerima bola, dan memutuskan. Dengan Xavi, Iniesta, dan Yaya Touré di belakangnya, serta Henry dan Eto'o melebar, setiap opsi lawan menjadi keliru. Antara 2011 dan 2013, Messi mencetak 96 gol dalam 69 pertandingan La Liga.
Ketika Xavi hengkang pada 2015 dan Iniesta tiga tahun kemudian, Messi kehilangan jaring pengaman. Ia dituntut menjadi Xavi, Iniesta, dan pencetak gol sekaligus. Beban itu terlalu berat, namun ia berevolusi lagi. Dari false nine, ia berubah menjadi enganche — pengatur serangan yang turun lebih dalam, memulai dan menyelesaikan peluang. Assists mulai menyamai gol. Musim 2019-20, ia mencatatkan 22 assist dan 25 gol di La Liga. Di PSG, untuk pertama kalinya dalam karier klubnya, jumlah assist (15) melampaui gol (11). Seorang analis Argentina menyebutnya, "Seorang pencetak gol yang berubah menjadi Iniesta."
Transformasi taktis berjalan paralel dengan perjalanan emosionalnya bersama Argentina. Setelah tiga kekalahan final beruntun (Piala Dunia 2014, Copa America 2015 dan 2016), Messi sempat pensiun dari tim nasional. Ia kembali, namun dengan sikap berbeda. Pada Copa America 2019, ia mengkritik konfederasi sepak bola Amerika Selatan secara terbuka. Bukan lagi pemain yang diam saat tekanan membelenggu, melainkan pemimpin yang tak lagi terdefinisi oleh kegagalan. Puncaknya, Copa America 2021 menjadi pelepas dahaga: Argentina mengalahkan Brasil di Maracanã, mengakhiri 28 tahun tanpa gelar. Pidato Messi sebelum laga membuat ruang ganti menangis.
Di Piala Dunia 2022, Messi tampil sebagai sintesis dari semua versi sebelumnya. Sprint melewati Josko Gvardiol di semifinal menghidupkan kembali sayap muda tahun 2009. Umpan presisi ala quarterback di final melawan Prancis, pergerakan hantu untuk memaksa rebound gol ketiga Argentina, dan penalti dingin saat segalanya dipertaruhkan. "Sepak bola berubah banyak," katanya kepada Zinedine Zidane pada 2023. "Permainan sekarang jauh lebih taktis dan fisik. Dulu, ada lebih banyak ruang." Ia mengatakannya dengan nada datar seseorang yang telah bermain di tiga era taktis berbeda dan keluar sebagai pemenang.
Kini, di Inter Miami dan Copa America 2024, Messi lebih banyak berjalan daripada berlari. Kritik dulu diarahkan padanya, kini dianggap sebagai penguasaan. Ia membaca permainan, menghemat energi untuk momen-momen penting. Pablo Aimar, idola masa kecilnya, pernah berkata, "Messi yang terakhir selalu yang terbaik." Kemungkinan besar ia benar. Pertanyaan yang tersisa: versi Messi seperti apa yang akan muncul di Piala Dunia 2026?



