Duka Pemulangan Haji: Dua Jemaah Malang Meninggal Beruntun di Pesawat dan Bus
Baca dalam 60 detik
- Dua jemaah haji Kloter 12 asal Malang meninggal dalam perjalanan pulang, satu di pesawat dan satu di bus, dengan dugaan serangan jantung.
- Total jemaah Debarkasi Surabaya yang wafat mencapai 49 orang, didominasi penyakit bawaan seperti hipertensi dan jantung yang dipicu kelelahan.
- PPIH mengingatkan risiko tinggi pada lansia dengan komorbid, terutama setelah puncak ibadah Armuzna dan perubahan cuaca ekstrem.

Kepulangan jemaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 12 asal Kota Malang, Jawa Timur, diwarnai musibah. Dua orang dilaporkan meninggal dunia secara beruntun dalam waktu kurang dari dua jam, masing-masing di dalam pesawat dan di atas bus, Kamis (4/6). Insiden ini menjadi pengingat getir akan kerentanan fisik jemaah di tengah prosesi pemulangan yang melelahkan.
Peristiwa pertama terjadi saat pesawat yang membawa rombongan tengah bersiap mendarat di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Sekitar 30 menit sebelum menyentuh landasan, seorang jemaah laki-laki berusia 70 tahun dilaporkan kehilangan kesadaran. Tim medis di dalam pesawat segera memberikan pertolongan, tetapi nyawanya tidak tertolong. Dugaan sementara, pria yang memiliki riwayat penyakit jantung itu mengalami serangan jantung akut.
Belum genap dua jam berselang, duka kembali menyelimuti Kloter 12. Seorang jemaah perempuan berusia 58 tahun, juga asal Malang, dilaporkan meninggal dunia saat berada di dalam bus yang mengangkut rombongan dari bandara menuju Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES). Kepala Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, mengonfirmasi bahwa indikasi awal penyebab kematian kedua jemaah adalah serangan jantung. "Ya memang pada waktu di pesawat dan di bus itu indikasinya jantung. Serangan jantung," ujarnya.
Data PPIH mencatat, hingga hari keempat fase pemulangan, total jemaah haji asal Debarkasi Surabaya yang meninggal mencapai 49 orang. Dari jumlah tersebut, 47 orang wafat di Arab Saudi, satu orang di pesawat, dan satu orang di bus. Rosidi menjelaskan bahwa mayoritas kematian disebabkan oleh komplikasi penyakit bawaan seperti hipertensi dan gangguan jantung, yang kambuh akibat akumulasi kelelahan fisik selama menjalani rangkaian ibadah. "Ibadah haji itu menguras energi fisik secara beruntun, ditambah perubahan iklim drastis, menjadi pemicu utama ambruknya ketahanan tubuh jemaah," katanya.
Meskipun setiap jemaah telah dinyatakan memenuhi syarat istithaah kesehatan sebelum berangkat, Rosidi mengakui bahwa penyakit sering kali muncul secara tiba-tiba ketika ada pemicu. "Kadang-kadang penyakit itu muncul ketika ada pemicu, misalnya kelelahan saat menuju embarkasi. Itu akan memicu penyakit yang sebelumnya tidak terdeteksi pada saat pemeriksaan istithaah," ujarnya. Ia menambahkan, titik kritis kelelahan fisik biasanya terjadi setelah puncak prosesi Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina), terutama bagi jemaah lanjut usia yang memiliki penyakit penyerta.
Konteks Indonesia: Kasus ini menyoroti tantangan besar dalam penyelenggaraan haji, khususnya bagi jemaah lansia dengan komorbid. Data menunjukkan bahwa persentase jemaah risiko tinggi (risti) yang tiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya masih mendominasi setiap kloter. Panjangnya waktu tunggu keberangkatan dan kelelahan perjalanan menjadi faktor yang memperburuk kondisi kesehatan. PPIH pun mengimbau jemaah lansia di atas 65 tahun yang memiliki penyakit penyerta untuk ekstra waspada, karena ketidakmampuan beradaptasi terhadap cuaca ekstrem dan kelelahan fisik yang dipaksakan menjadi faktor paling fatal.
Ke depan, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah bagaimana sistem istithaah kesehatan dapat lebih adaptif terhadap perubahan kondisi fisik jemaah di lapangan. Apakah prosedur pemeriksaan statis di tingkat kabupaten sudah cukup untuk memprediksi risiko yang muncul akibat perjalanan panjang dan ibadah berat? Ataukah diperlukan pemantauan kesehatan berkala selama di Arab Saudi untuk mencegah insiden serupa? Evaluasi menyeluruh terhadap protokol kesehatan haji menjadi keniscayaan agar nyawa jemaah tidak kembali menjadi taruhan.



