Gebrakan Korsel di AI: Samsung dan SK Group Borong Kerja Sama US$950 Miliar dengan Perusahaan AS
Baca dalam 60 detik
- Korea Selatan mengumumkan inisiatif AI senilai US$950 miliar yang melibatkan Samsung, SK Group, dan perusahaan teknologi AS seperti Nvidia dan Broadcom.
- Kesepakatan ini bertujuan mengamankan pasokan chip memori canggih yang semakin langka di tengah booming AI global.
- Langkah ini memperkuat posisi Korsel sebagai pusat produksi semikonduktor sekaligus membuka peluang investasi bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Korea Selatan resmi meluncurkan inisiatif kecerdasan buatan (AI) senilai US$950 miliar yang mempertemukan raksasa semikonduktor Samsung Electronics dan SK Group dengan perusahaan-perusahaan teknologi Amerika Serikat, menandai babak baru dalam perebutan pasokan chip canggih global.
Dalam KTT AI yang digelar di San Francisco, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengumumkan sejumlah kerja sama strategis. SK Group meneken kesepakatan senilai US$750 miliar, termasuk kemitraan SK Hynix dengan Nvidia yang nilainya lebih dari US$500 miliar. Sementara itu, Samsung Electronics menandatangani nota kesepahaman dengan Broadcom senilai hingga US$200 miliar yang mencakup chip memori, jasa foundry, dan pengemasan canggih.
Langkah ini merupakan respons terhadap kelangkaan pasokan chip yang semakin mendesak seiring melonjaknya permintaan untuk infrastruktur komputasi AI. Permintaan memori dari perusahaan seperti Nvidia, OpenAI, dan Anthropic disebut jauh melampaui kapasitas produksi saat ini. Ketua SK Group, Chey Tae-won, bahkan memperkirakan kebutuhan memori Nvidia dalam lima tahun ke depan akan terus meningkat. "Saya tidak akan terkejut jika lain kali saya bertemu Jensen Huang, dia akan mengatakan angka-angka itu terlalu rendah dan meminta lebih banyak," ujarnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara dengan ambisi besar dalam pengembangan AI dan digitalisasi, Indonesia masih sangat bergantung pada impor chip. Kemitraan antara Korsel dan AS ini berpotensi memperkuat rantai pasok global, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi ketersediaan dan harga chip di pasar Indonesia. Di sisi lain, investasi besar-besaran ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi di sektor hilir semikonduktor, seperti perakitan dan pengujian.
Menurut Chey Tae-won, diskusi dengan para CEO AI mengindikasikan permintaan memori jauh lebih besar dari proyeksi awal. Broadcom CEO Hock Tan juga mengakui bahwa kebutuhan memorinya kemungkinan melampaui pasokan yang tersedia. Sementara itu, Anthropic dilaporkan tengah menjajaki kemungkinan merancang chip sendiri, meski juru bicaranya mengatakan perusahaan selalu mengeksplorasi opsi diversifikasi untuk komputasi.
Presiden Lee Jae Myung, yang juga bertemu dengan CEO Nvidia Jensen Huang, OpenAI Sam Altman, dan Anthropic Dario Amodei, menekankan komitmen Seoul untuk menjadi pusat inovasi AI global. "Saya ingin menyajikan visi masa depan AI dan mengusulkan kerja sama global untuk mewujudkannya," katanya dalam pidato di KTT yang dihadiri pula oleh eksekutif puncak Samsung, SK, Hyundai, dan Naver.
Dengan total investasi yang hampir mencapai US$1 triliun, Korea Selatan jelas mengambil peran sentral dalam ekosistem AI global. Pertanyaannya, apakah negara-negara lain, termasuk Indonesia, mampu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi mereka di rantai pasok semikonduktor? Atau justru kesenjangan teknologi akan semakin melebar?



