Obat Hipertensi Umum Justru Perburuk Ginjal pada Diabetes Tipe 2?
Baca dalam 60 detik
- Studi observasional pada 31.041 pasien diabetes tipe 2 menemukan bahwa penggunaan DCCB dikaitkan dengan risiko 33% lebih tinggi mengalami kejadian ginjal buruk dibandingkan obat antihipertensi lain.
- Temuan ini menimbulkan kekhawatiran karena DCCB banyak diresepkan sebagai terapi tambahan pada pasien yang sudah mendapat RASi dan SGLT2i, namun peneliti mengingatkan perlunya replikasi sebelum mengubah pedoman.
- Di Indonesia, dengan prevalensi diabetes dan hipertensi yang tinggi, hasil studi ini menjadi peringatan penting bagi dokter dalam memilih kombinasi obat antihipertensi yang tepat.

Sebuah studi yang dipresentasikan di Kongres Asosiasi Ginjal Eropa ke-63 di Glasgow, Inggris, mengungkapkan bahwa golongan obat hipertensi yang lazim diresepkan, yaitu dihydropyridine calcium-channel blockers (DCCB), justru dapat mempercepat kerusakan ginjal pada penderita diabetes tipe 2. Temuan ini menjadi perhatian serius karena lebih dari 80% pasien penyakit ginjal kronis juga menderita hipertensi, sehingga pemilihan obat antihipertensi menjadi krusial.
Penelitian yang menganalisis data 31.041 orang dewasa dengan diabetes tipe 2 antara 2016 hingga 2021 ini membandingkan mereka yang menggunakan DCCB dengan pasien yang mendapat terapi antihipertensi lain. Seluruh partisipan sudah menjalani pengobatan standar dengan renin-angiotensin system inhibitors (RASi) dan sodium-glucose cotransporter-2 inhibitors (SGLT2i). Hasilnya, kelompok yang mengonsumsi DCCB memiliki risiko 33% lebih tinggi mengalami kejadian ginjal buruk (major adverse kidney events) dalam masa pemantauan rata-rata 3,5 tahun. Selama periode tersebut, tercatat 482 pasien mengalami kejadian ginjal serius dan 2.066 pasien meninggal dunia.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa studi ini bersifat observasional dan belum melalui proses peer-review. Benaya Rozen-Zvi, MD, peneliti utama dari Rabin Medical Center dan Universitas Tel Aviv, Israel, mengingatkan bahwa masih banyak faktor pengganggu yang belum terkontrol. "Temuan ini penting dan mengkhawatirkan, namun perlu direplikasi dalam kelompok yang lebih besar, idealnya secara prospektif, sebelum pedoman diubah secara signifikan," ujarnya seperti dikutip dalam siaran pers.
Di Indonesia, di mana prevalensi diabetes tipe 2 dan hipertensi terus meningkat, temuan ini memiliki implikasi langsung. Banyak pasien diabetes di tanah air yang juga mengonsumsi DCCB sebagai bagian dari terapi kombinasi. Dokter spesialis penyakit dalam dan ginjal perlu lebih cermat dalam memilih obat antihipertensi, terutama pada pasien yang sudah mendapat RASi dan SGLT2i. Alternatif seperti tiazid diuretik bisa menjadi pilihan, meski memerlukan pemantauan ketat terhadap fungsi ginjal dan elektrolit.
Timna Agur, penulis utama studi dari Rabin Medical Center, menekankan bahwa hasil penelitian ini memunculkan pertanyaan penting tentang apakah DCCB selalu menjadi pilihan terbaik bagi pasien yang sudah menerima terapi pelindung ginjal modern. Namun, Asosiasi Dokter Diabetes Klinis Inggris (ABCD) mengingatkan bahwa masih banyak ketidakpastian dan diperlukan verifikasi ketat. "Kami tidak bisa mengendalikan sisa faktor pengganggu, dan bias indikasi mungkin masih ada," kata perwakilan ABCD.
Ke depan, tim peneliti berencana melakukan studi lebih lanjut pada populasi non-diabetes untuk memperkuat temuan. Sementara itu, Rozen-Zvi menyarankan pasien yang menjalani terapi kombinasi untuk berkonsultasi dengan dokter mereka guna menentukan strategi pengendalian tekanan darah yang paling optimal. Pertanyaan yang masih menggantung: akankah pedoman pengobatan hipertensi pada diabetes tipe 2 berubah setelah studi ini?



