Jelang Piala Dunia 2026, Timnas Jepang Keringat Dingin Hadapi Cuaca Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Skuad Samurai Blue memulai pemusatan latihan di Monterrey, Meksiko, dengan fokus utama adaptasi terhadap suhu tinggi yang diprediksi menyentuh 30 derajat Celsius.
- Pelatih melarang pemain langsung masuk ice bath usai latihan demi mempercepat aklimatisasi, sementara beberapa pemain berlatih dengan lengan panjang untuk memicu keringat lebih banyak.
- Jepang tergabung di Grup F bersama Belanda, Tunisia, dan Swedia, dengan dua laga di Dallas dan satu di Monterrey yang rawan panas dan lembap hingga malam hari.

Tim nasional Jepang memulai persiapan akhir menuju Piala Dunia 2026 dengan tantangan yang tak biasa: bukan taktik atau lawan, melainkan suhu udara. Di kamp pemusatan latihan di Monterrey, Meksiko, suhu mencapai 30 derajat Celsius, memaksa staf pelatih mengubah kebiasaan pemulihan pemain dan bahkan menunda sesi latihan karena kondisi lapangan yang kurang ideal.
Para pemain, termasuk bek sayap Werder Bremen Yukinari Sugawara, terlihat mengenakan lengan panjang saat berlatih. Bukan karena kedinginan, melainkan sengaja memicu produksi keringat lebih banyak agar tubuh lebih cepat beradaptasi dengan panas yang diperkirakan akan menyambut mereka di dua venue pertandingan: Dallas dan Monterrey. Langkah ini menjadi bagian dari strategi aklimatisasi yang dirancang staf pelatih untuk menghadapi suhu tinggi dan kelembapan yang bertahan hingga malam hari.
Winger Junya Ito mengungkapkan bahwa staf pelatih memberikan instruksi khusus terkait pemulihan. “Kami dilarang langsung masuk ke ice bath setelah latihan. Itu tidak baik untuk aklimatisasi panas,” ujarnya. Kebijakan ini bertolak belakang dengan praktik umum yang justru menganjurkan pendinginan cepat setelah latihan berat. Namun, dalam konteks persiapan menuju turnamen di Amerika Utara, pendekatan ini dinilai lebih efektif untuk membangun toleransi tubuh terhadap suhu ekstrem.
Veteran Yuto Nagatomo, yang akan tampil di Piala Dunia kelima kalinya pada usia 39 tahun, menjadi salah satu pilar penting dalam proses adaptasi ini. Ia mengaku mempelajari rekaman pertandingan Jepang melawan Pantai Gading di Piala Dunia 2014, saat tim unggul lebih dulu namun kehilangan performa di babak kedua. “Saya melihat bahwa sejak menit ke-20, bukan hanya level energi saya, tetapi performa seluruh tim menurun,” kata Nagatomo. “Mengelola kondisi fisik dan memahami cara meningkatkannya sangat penting. Saya bisa mewariskan pengalaman ini ke pemain yang lebih muda.”
Bagi Indonesia, persiapan Jepang ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana tim-tim elite menghadapi faktor lingkungan sebagai variabel krusial. Dalam beberapa tahun terakhir, Timnas Indonesia juga kerap menghadapi tantangan serupa saat bertanding di negara dengan iklim tropis atau saat laga tandang ke kawasan Timur Tengah. Pendekatan ilmiah seperti yang dilakukan Jepang—mulai dari penyesuaian jadwal latihan, pemilihan pakaian, hingga pengaturan pemulihan—bisa menjadi referensi berharga bagi federasi sepak bola nasional.
Jepang akan memulai perjuangan di Grup F melawan Belanda pada 14 Juni di Dallas Stadium, disusul Tunisia pada 20 Juni di Monterrey, dan menutup fase grup melawan Swedia pada 25 Juni, kembali di Dallas. Dengan suhu yang diprediksi masih tinggi hingga malam hari, kemampuan tim dalam menjaga kebugaran fisik sepanjang 90 menit akan menjadi kunci. Pertanyaannya, akankah strategi aklimatisasi ala Samurai Blue cukup untuk mengantarkan mereka melangkah lebih jauh dari babak grup?



