Tuchel Wajib Akhiri Eksperimen: Laga Uji Coba Inggris Tak Meyakinkan
Baca dalam 60 detik
- Inggris hanya menang 1-0 atas Selandia Baru dalam laga uji coba yang lebih mirip sesi latihan, dengan 22 pemain dimainkan.
- Thomas Tuchel masih merotasi skuad secara ekstensif, namun waktu persiapan menuju Piala Dunia 2026 semakin sempit.
- Penampilan tim disebut baru 60% dari kapasitas maksimal; uji coba melawan Kosta Rika menjadi penentu keseriusan Tuchel.

Hanya enam hari menjelang laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Kroasia, pelatih Timnas Inggris Thomas Tuchel masih berkutat dengan eksperimen yang membuat performa tim jauh dari meyakinkan. Kemenangan tipis 1-0 atas Selandia Baru di Tampa, Sabtu (7/6), lebih terasa seperti sesi latihan berintensitas rendah ketimbang pertandingan persiapan bergengsi.
Tuchel menggunakan dua tim berbeda di masing-masing babak, total 22 pemain diturunkan—sebuah rekor yang terakhir terjadi pada 2004 saat Inggris menghadapi Islandia. Hasilnya, gol tunggal Harry Kane menjelang turun minum menjadi satu-satunya hiburan. “Kami hanya punya empat sesi latihan bersama, lalu mencampur tim sepenuhnya,” kata Tuchel membela diri.
Eksperimen ini bukannya tanpa risiko. Dalam tiga laga terakhir, Inggris hanya mencetak dua gol. Tuchel juga absennya sejumlah pilar seperti Declan Rice dan Bukayo Saka yang baru bergabung setelah libur pasca-musim. Namun, mantan pelatih Chelsea itu tak bisa sepenuhnya lepas dari tanggung jawab: ia kerap memainkan pemain di posisi tak lazim, seperti Phil Foden sebagai striker saat melawan Jepang, yang kemudian tak masuk skuad Piala Dunia.
Bagi pengamat, laga kontra Selandia Baru tak bisa dijadikan tolok ukur. Mantan bek Inggris Stephen Warnock menilai tim baru bermain pada 60% kapasitas karena proses aklimatisasi yang belum tuntas. “Butuh sekitar dua pekan untuk beradaptasi dengan iklim dan kelembaban,” ujarnya. “Yang terpenting adalah bagaimana mereka memulai turnamen. Jika menang lawan Kroasia, tak ada yang peduli dengan uji coba ini.”
Kunci utama tetap berada di pundak Harry Kane. Kapten sekaligus mesin gol Inggris itu kembali menjadi penentu kemenangan. Tanpa dirinya, lini depan Inggris kehilangan ketajaman. Sementara itu, persaingan posisi gelandang serang nomor 10 antara Morgan Rogers dan Jude Bellingham belum menemukan titik terang. Rogers starter di babak pertama, namun Bellingham memakai ban kapten di babak kedua.
Laga terakhir melawan Kosta Rika di Orlando pada Rabu (11/6) menjadi momentum bagi Tuchel untuk menunjukkan starting eleven sesungguhnya. Ia harus segera membangun ritme dan kombinasi pemain. “Semakin berat lawan, semakin baik kami,” ujar Tuchel optimistis. Namun, jika eksperimen terus berlanjut, bukan tidak mungkin Inggris akan kesulitan saat berhadapan dengan Kroasia di Dallas.
Pertanyaan besarnya: akankah Tuchel berani mengambil keputusan tegas atau justru terus bergantung pada ‘keberuntungan’ Kane?



