Rekor 44 Tahun Bayern dan Inter di Final Piala Dunia: Bisakah Berlanjut di 2026?
Baca dalam 60 detik
- Sejak 1982, setiap final Piala Dunia selalu diikuti minimal satu pemain Bayern Munich dan satu pemain Inter Milan, sebuah rekor yang bertahan 11 edisi.
- Rekor ini bertahan meski pemain dari kedua klub sering berada di tim yang sama atau berbeda, dengan momen dramatis seperti final 2006 dan 2022.
- Menjelang Piala Dunia 2026, sejumlah pemain seperti Lautaro Martinez, Jamal Musiala, dan Harry Kane menjadi tumpuan untuk memperpanjang rekor tersebut.
Sejak 1982, setiap partai puncak Piala Dunia selalu melibatkan setidaknya satu pemain dari Bayern Munich dan satu dari Inter Milan. Rekor luar biasa ini telah bertahan selama 44 tahun dan 11 edisi turnamen, menjadikannya salah satu statistik paling unik dalam sejarah sepak bola global. Kini, dengan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara yang akan digelar dalam format 48 tim, muncul pertanyaan: mampukah rekor ini bertahan untuk ke-12 kalinya?
Semuanya bermula di final Spanyol 1982, ketika tiga pemain Inter—Beppe Bergomi, Gabriele Oriali, Alessandro Altobelli—berseragam Italia berhadapan dengan tiga wakil Bayern Munich dari Jerman Barat: Karl-Heinz Rummenigge, Paul Breitner, dan Wolfgang Dremmler. Italia keluar sebagai pemenang, namun benih rekor telah tertanam. Sejak saat itu, setiap final selalu menyertakan setidaknya satu pemain dari kedua klub raksasa Eropa tersebut.
Menariknya, rekor ini tidak selalu berarti mereka berseberangan. Di final Meksiko 1986, Rummenigge yang saat itu sudah membela Inter bergabung dengan pemain Bayern di kubu Jerman Barat, namun kalah dari Argentina milik Maradona. Empat tahun kemudian, giliran Lothar Matthaus yang mengangkat trofi sebagai pemain Inter, ditemani rekan setimnya Jurgen Klinsmann dan Andreas Brehme, sementara Bayern diwakili Klaus Augenthaler dan kawan-kawan. Pola serupa terulang di berbagai edisi, termasuk final 2010 ketika Mark van Bommel dan Arjen Robben (Bayern) bersama Wesley Sneijder (Inter) membela Belanda, meski akhirnya kalah dari Spanyol.
Final 2022 di Qatar menjadi ujian terberat bagi rekor ini. Argentina unggul 2-0 atas Prancis dan seolah akan memutus rantai, namun Kylian Mbappe menyamakan kedudukan. Inter's Lautaro Martinez masuk sebagai pemain pengganti dan tembakannya memantul untuk diselesaikan Lionel Messi. Setelah Mbappe mencetak hat-trick, adu penalti menentukan: Kingsley Coman (Bayern) gagal mengeksekusi, sementara Argentina menang. Rekor kembali selamat.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, rekor ini menambah daya tarik tersendiri dalam mengikuti Piala Dunia. Banyak pemain yang menjadi langganan di klub-klub Eropa favorit masyarakat Indonesia, seperti Bayern yang memiliki basis penggemar besar berkat sosok seperti Michael Ballack (meski tidak pernah juara dunia) dan kini Jamal Musiala. Inter pun punya pengikut setia, terutama sejak era Ronaldo dan Roberto Baggio. Menjelang 2026, nama-nama seperti Lautaro Martinez (Argentina), Denzel Dumfries (Belanda), dan Marcus Thuram (Prancis) akan menjadi andalan Inter, sementara Bayern mengandalkan Musiala, Manuel Neuer, Harry Kane (Inggris), dan Alphonso Davies (Kanada).
Namun, tantangan besar menghadang. Italia, yang kerap menjadi pemasok pemain Inter ke final, gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Ini berarti Inter harus bergantung pada pemain asingnya. Di sisi lain, Bayern tetap memiliki inti pemain Jerman yang kuat, meski performa timnas Jerman belakangan ini menurun. Jika rekor ini bertahan, maka akan menjadi pencapaian yang sulit ditandingi. Sebaliknya, jika putus, maka sebuah era panjang dalam sejarah Piala Dunia akan berakhir. Akankah Amerika Utara menjadi saksi akhir dari rekor 44 tahun ini, atau justru menjadi panggung bagi babak baru?



