Rayco Rodriguez: Warisan Mentalitas Luis Aragones di Lapangan Hijau Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Gelandang serang Persita Tangerang, Rayco Rodriguez, menutup musim 2025/2026 dengan catatan 6 gol dan 10 assist, menjadi motor serangan Pendekar Cisadane.
- Pemain asal Spanyol ini mengaku mengidolakan Luis Aragones, mantan pelatih Timnas Spanyol, yang menanamkan mentalitas pemenang tanpa kompromi.
- Performa konsisten Rayco membuatnya masuk Best XI mingguan dan meraih Pemain Terbaik Maret, serta berpeluang diperpanjang kontrak untuk musim depan.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5455408/original/043679100_1766653218-Rayco_Rodriguez-4.jpg)
Rayco Rodriguez, gelandang serang Persita Tangerang asal Kepulauan Gran Canaria, bukan sekadar pemain asing biasa. Dalam debutnya di BRI Super League 2025/2026, ia langsung menjadi nyawa serangan Pendekar Cisadane dengan torehan 6 gol dan 10 assist sepanjang musim yang berakhir Mei lalu. Namun, di balik angka-angka itu, ada filosofi yang ia bawa dari tanah kelahirannya: mentalitas pemenang ala Luis Aragones.
Bagi Rayco, Aragones bukan sekadar nama besar dalam sepak bola Spanyol. Mantan pelatih Atletico Madrid dan arsitek kejayaan Timnas Spanyol di Euro 2008 itu mewariskan satu pesan sederhana namun membakar: "Menang, menang, menang, dan menang lagi." Kalimat itu, kata Rayco, terus terngiang di kepalanya setiap kali melangkah ke lapangan. "Mentalitas saya adalah menang, entah kami bermain melawan Persib di Bandung ataupun tim besar lainnya," ujarnya.
Penerapan filosofi itu nyata terlihat pada pekan ke-24, ketika Persita menaklukkan PSM Makassar 4-2 di Parepare. Rayco menjadi bintang dengan satu gol dan dua assist, membuktikan bahwa dirinya tidak hanya bergantung pada momen individu, tetapi juga mampu mengangkat performa tim. "Jika tim menang, saya pulang dengan senang hati. Saya adalah pemain yang ambisius," tegasnya.
Yang menarik, Rayco tidak hanya mengandalkan skill dengan bola. Ia menekankan bahwa kontribusi tanpa bola sama pentingnya. "Jika saya tidak bermain bagus dengan bola, saya adalah yang terbaik tanpa bola—membantu bertahan atau apa pun itu," katanya. Sikap ini membuatnya cepat beradaptasi dengan gaya bermain Persita yang mengandalkan serangan balik cepat.
Di Indonesia, kehadiran pemain dengan mentalitas seperti Rayco menjadi angin segar bagi kompetisi. Banyak pemain asing datang dengan skill individu, namun tidak semuanya memiliki etos kerja dan dedikasi seperti yang ditunjukkan Rayco. Ia mengaku bahwa pengalamannya di Spanyol membentuk rantai positif: ketika tim bermain bagus, peluang individu semakin terbuka. "Saya selalu mengatakan ini kepada pelatih: jika saya membantu tim, semuanya akan berjalan baik," pungkasnya.
Manajemen Persita dikabarkan tengah mempertimbangkan perpanjangan kontrak Rayco untuk BRI Super League 2026/2027. Jika terealisasi, Pendekar Cisadane tidak hanya mempertahankan pemain berkualitas, tetapi juga seorang pemimpin yang mewarisi semangat juang Luis Aragones. Pertanyaannya, mampukah Rayco mempertahankan konsistensi dan membawa Persita ke level yang lebih tinggi?



