Kubo Bawa Beban Sejarah: Samurai Biru Targetkan Perempat Final Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Takefusa Kubo, yang kini berusia 25 tahun, menjadi tulang punggung Jepang setelah lolos pertama ke Piala Dunia 2026 lewat kualifikasi Asia.
- Kegagalan di babak 16 besar Piala Dunia 2022 melawan Kroasia menjadi pelajaran berharga tentang detail kecil yang menentukan.
- Dengan semakin banyaknya pemain Jepang di liga top Eropa, kepercayaan diri tim meningkat untuk menembus batas sejarah perempat final.
Takefusa Kubo, gelandang serang Real Sociedad, kini memikul harapan besar Jepang untuk pertama kalinya menembus perempat final Piala Dunia. Empat tahun setelah menjadi pemain termuda skuad Samurai Biru di Qatar 2022, Kubo tumbuh menjadi pemimpin yang percaya diri bahwa timnya mampu mengubah sejarah.
Jepang menjadi negara pertama yang memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 setelah performa impresif di kualifikasi Asia. Menurut Kubo, perubahan mentalitas terjadi sejak pertengahan putaran kualifikasi. "Sekitar pertandingan keempat atau kelima, kami unggul enam poin. Saat itu saya sadar betapa bagusnya tim ini," ujarnya kepada FIFA. Ia menekankan bahwa kepercayaan diri lahir bukan hanya dari hasil, tetapi juga dari cara bermain dan kekompakan tim.
Kepercayaan diri itu dibangun di atas kekecewaan di Qatar. Jepang sukses mengalahkan dua juara dunia, Jerman dan Spanyol, namun tersingkir oleh Kroasia melalui adu penalti di babak 16 besar. Kubo menilai kekalahan itu bukan semata karena adu penalti. "Intensitas pertandingan dan detail kecil yang tidak kami lakukan dengan benar menjadi pelajaran. Buku sejarah mencatat kami kalah lewat penalti, tapi saya pikir banyak yang bisa diperbaiki dalam 120 menit sebelumnya," katanya.
Bagi Indonesia, perkembangan Jepang menjadi tolok ukur sepak bola Asia. Dengan jumlah pemain yang merumput di Eropa semakin banyak, Jepang menunjukkan bahwa pendekatan disiplin dan taktis bisa mengimbangi raksasa dunia. Pelajaran dari kegagalan Jepang di babak 16 besar juga relevan bagi Timnas Indonesia yang tengah membangun fondasi serupa: detail kecil dan konsistensi mental menjadi pembeda di panggung terbesar.
Kubo, yang dikenal dengan kreativitas dan kemampuannya melewati lawan satu lawan satu, menegaskan bahwa kebebasan menyerang harus didasari disiplin taktis. "Pemain depan bisa bermain bebas karena ada pertahanan solid di belakang dan posisi tim yang terstruktur," jelasnya. Filosofi ini menjadi kunci Jepang dalam menghadapi lawan-lawan berat.
Menatap Piala Dunia 2026, Kubo dan Jepang tidak hanya mengandalkan organisasi permainan, tetapi juga kilau individu yang bisa mengubah jalannya pertandingan. Pertanyaannya, akankah pengalaman pahit di Qatar cukup untuk mendorong Samurai Biru akhirnya menembus tembok perempat final?



