Ronaldo di Persimpangan: Antara Legenda Hidup dan Beban Timnas Portugal
Baca dalam 60 detik
- Cristiano Ronaldo akan tampil di Piala Dunia keenamnya, namun kritik terhadap perannya sebagai starter kian menguat setelah performa tim justru moncer tanpa dirinya.
- Pelatih Roberto Martinez membela Ronaldo dengan statistik 25 gol dalam 31 laga terakhir, sementara legenda Portugal Antonio Simoes menilai sang kapten lebih mementingkan pamor pribadi.
- Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) mulai mempersiapkan masa pasca-Ronaldo dengan proyeksi pendapatan rekor €161 juta, namun ikatan merek keduanya sulit dipisahkan.

Cristiano Ronaldo bersiap melakoni Piala Dunia keenamnya bersama Portugal pada usia 41 tahun, tetapi untuk pertama kalinya dalam karier internasionalnya, statusnya sebagai pemain inti menuai perdebatan publik yang tak bisa diabaikan. Setelah dua dekade menjadi wajah sepak bola Portugal, sang megabintang kini menghadapi tekanan dari dalam negeri yang mempertanyakan apakah timnas justru lebih efektif tanpa dirinya.
Perjalanan Ronaldo bersama Selecao dimulai pada 20 Agustus 2003, saat ia masih remaja bertubuh kurus dari Madeira. Kala itu, laga persahabatan melawan Kazakhstan di Chaves hanya dihadiri 8.000 penonton dan lapangan rumputnya dicat hijau agar layak pakai. Dua puluh tiga tahun kemudian, Ronaldo telah mencetak 143 gol internasional—rekor dunia—dan mengubah cara pandang Portugal terhadap sepak bola. “Cristiano memungkinkan negara kecil kami dikenal di seluruh dunia karena hal-hal positif yang ia perjuangkan,” ujar Joao Aroso, yang pernah bekerja sama dengan Ronaldo di Sporting dan timnas, kepada BBC Sport.
Namun, euforia itu mulai terusik. Setelah Piala Dunia 2022 di Qatar, kritik terhadap dominasi Ronaldo di lapangan kian vokal. Antonio Simoes, anggota tim Portugal yang finis ketiga pada Piala Dunia 1966, tak ragu menyerang. “Ia tidak bermain untuk menang, ia bermain untuk menjadi pusat perhatian,” kata Simoes. “Itu kebalikan dari Eusebio. Saya tidak bisa lari dari kenyataan.” Pernyataan ini menandai perubahan sikap di Portugal, di mana mempertanyakan Ronaldo dulu dianggap hampir makar.
Pelatih Roberto Martinez menepis perdebatan itu sebagai “omong kosong di lift”. Ia selalu merujuk pada statistik 25 gol dalam 31 pertandingan terakhir Ronaldo untuk Portugal. “Kami berbicara tentang pemain terhebat sepanjang masa. Ia di sini karena masih tampil di level tinggi, bukan karena masa lalunya,” tegas Martinez. Namun, data menunjukkan dua kemenangan terbesar Portugal di era Martinez justru terjadi saat Ronaldo absen: 9-0 atas Luksemburg pada September 2023 dan 9-1 atas Armenia pada November 2024. Dua hasil itu memicu kembali diskusi tentang apakah tim lebih cair tanpa kaptennya.
Komentator Sofia Oliveira dari CNN Portugal dan DAZN Portugal tak ragu: “Ia tidak lagi memiliki level untuk menjadi starter di tim yang ingin memenangi Piala Dunia. Masalahnya, timnas tidak mempersiapkan diri untuk skenario itu.” Kekhawatiran serupa muncul dari pengalaman Fernando Santos, yang mencoreng Ronaldo di Qatar 2022 dan mendapat serangan dari keluarga sang pemain di media sosial, sebelum akhirnya dipecat. Martinez mengaku tak takut nasib serupa, tetapi kekuatan Ronaldo di Portugal begitu besar hingga presiden FPF, Pedro Proenca, harus membantah bahwa Ronaldo punya hak pilih dalam menentukan pelatih berikutnya.
Kontroversi lain muncul saat FPF mengumumkan kemitraan dengan AVA CR7, perusahaan pemulihan fisik milik Ronaldo, pada Februari lalu. Federasi membantah adanya konflik kepentingan dan menegaskan Ronaldo tidak terlibat dalam negosiasi. Namun, langkah itu tetap menimbulkan kecurigaan di tengah publik yang mulai bertanya-tanya sejauh mana pengaruh Ronaldo terhadap institusi sepak bola Portugal.
Di sisi lain, FPF mulai mempersiapkan masa transisi. Pada Mei lalu, federasi menyetujui anggaran 2026-27 dengan proyeksi pendapatan rekor €161 juta, setelah mencatat laba untuk tahun ke-13 berturut-turut. “Kami mempersiapkan momen ini tanpa mendramatisirnya. Cristiano akan selalu terikat dengan Portugal sebagai negara, bukan dengan federasi,” kata Proenca. “Yang bisa saya jamin, pendapatan operasional federasi aman untuk keberlanjutan siklus setelah Cristiano pergi.”
Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung terakhir Ronaldo. Ia telah mengonfirmasi hal tersebut. Pertandingan perdana melawan Republik Demokratik Kongo pada 17 Juni akan menjadi ujian awal: mampukah Portugal memadukan ambisi tim dengan aura sang legenda? Atau justru sebaliknya, kehadiran Ronaldo menjadi bumerang yang menghalangi Selecao meraih gelar pertama mereka?



