Shakira: Kegagalan Mengajarkan Saya Arti Ketangguhan Sejati
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Shakira mengaku terkejut dengan ketangguhan dirinya setelah menghadapi berbagai cobaan, termasuk perceraian dari Gerard Pique.
- Ia menekankan pentingnya rasa syukur atas setiap pelajaran hidup, bahkan dari orang yang meninggalkan luka.
- Shakira kini menyesali kurangnya rasa percaya diri di usia 20-an dan menilai monogami sebagai utopia, meski tetap percaya pada cinta.

Penyanyi internasional Shakira, 49 tahun, mengaku dirinya sendiri terkejut dengan ketangguhan yang ia miliki selama bertahun-tahun menghadapi pasang surut kehidupan. Dalam wawancara terbaru dengan majalah People, pelantun "Hips Don't Lie" itu mengungkapkan bahwa ia selalu mengira dirinya lebih rapuh daripada yang dibuktikan oleh kehidupan.
"Saya selalu berpikir bahwa saya lebih rapuh atau lebih lemah daripada yang ditunjukkan oleh kehidupan kepada saya," ujar Shakira, yang mengalami perpisahan publik dari mantan pasangannya, bintang sepak bola Gerard Pique, pada tahun 2022. Pernyataan ini menjadi cerminan perjalanan emosional yang panjang, di mana ia harus bangkit kembali setelah patah hati di hadapan mata dunia.
Shakira menegaskan bahwa setiap kemunduran selalu menyimpan pelajaran berharga. "Di balik setiap pengalaman dalam hidup, selalu ada pelajaran, dan kita harus bersyukur untuk semua pelajaran itu, bahkan untuk orang-orang yang meninggalkan bekas luka, karena mereka justru membuat kita lebih baik," katanya. Filosofi ini menjadi landasan bagi penyanyi yang telah menjual lebih dari 80 juta rekaman di seluruh dunia itu untuk terus melangkah maju.
Meski sukses besar di puncak karier, Shakira mengaku menyesali kurangnya rasa percaya diri saat masih muda. Ia berkata, "Saya akan berkata kepada gadis yang berusia 20-an itu untuk lebih menikmati, lebih percaya pada dirinya sendiri. Saya pikir perempuan, seiring berjalannya waktu, kita memperoleh kepercayaan diri baru. Meskipun kita tidak terlihat sesempurna di usia 20-an, indah untuk menjadi diri sendiri dan menerima siapa diri kita."
Dalam kesempatan lain, Shakira juga menyentuh topik monogami yang ia sebut sebagai "utopia". Namun, ia tetap percaya pada cinta berkat contoh orang tuanya yang telah bersama selama 50 tahun. "Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya tidak percaya pada cinta karena saya melihat contoh orang tua saya setelah 50 tahun bersama; bagaimana mereka saling menatap mata dan berpegangan tangan serta tidak bisa hidup terpisah satu sama lain. Saya telah menyaksikan cinta, hanya saja saya tidak seberuntung itu sendiri," ungkapnya kepada Marie Claire UK.
Shakira menemukan penghiburan dalam kasih sayang penggemar, anak-anak, dan sahabat sejati. Ia mengutip Oscar Wilde yang mengatakan bahwa persahabatan adalah bentuk cinta yang paling murni. "Itu bertahan lebih lama—setidaknya dalam pengalaman saya. Hubungan saya bertahan 12 tahun, tetapi teman-teman saya akan ada seumur hidup. Ketika kesulitan datang, saat itulah saya belajar betapa pentingnya persahabatan," pungkasnya.
Bagi publik Indonesia, kisah Shakira menjadi pengingat bahwa ketangguhan bukanlah soal tidak pernah jatuh, melainkan kemampuan untuk bangkit dan belajar dari setiap luka. Di tengah budaya yang kerap menekankan kesempurnaan, pengakuan Shakira tentang kerapuhan dan penerimaan diri bisa menjadi refleksi bagi banyak orang, terutama perempuan, untuk lebih berani menjadi diri sendiri.



