Dari Duka hingga Lukisan: Kisah Seniman Singapura Temukan Kembali Cahaya di Pegunungan Altai
Baca dalam 60 detik
- Seniman Singapura Siyuan Aw mengubah perjalanan spiritualnya ke Mongolia menjadi buku bergambar yang masuk nominasi penghargaan sastra anak bergengsi.
- Pertemuannya dengan pemburu elang remaja bernama Bekku mengajarkannya arti melepaskan dan menyembuhkan luka kehilangan sang ibu.
- Buku 'Our Wings As One' telah diterbitkan dalam dua bahasa dan didonasikan untuk yayasan kanker anak sebagai bentuk solidaritas.

Seorang seniman asal Singapura, Siyuan Aw, berhasil mengubah duka mendalam menjadi karya seni yang menyentuh setelah melakukan perjalanan sendirian ke Mongolia. Buku bergambar perdananya, Our Wings As One, baru-baru ini masuk dalam daftar pendek Penghargaan Buku Anak-Anak Hedwig Anuar 2026, sebuah pencapaian yang lahir dari pertemuan tak terduga dengan seorang remaja pemburu elang di Pegunungan Altai.
Pada 2018, Aw yang saat itu menjabat sebagai kepala strategi di sebuah biro iklan besar di Shanghai, merasa terperangkap dalam rutinitas yang melelahkan. Kepergian ibunya akibat kanker beberapa tahun sebelumnya meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh. “Meskipun saya seorang ahli strategi merek, saya tidak pernah berhasil menyusun strategi untuk keluar dari kesedihan saya sendiri,” ujarnya. Keputusan untuk meninggalkan gemerlap Shanghai dan menuju alam liar Mongolia Barat menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di Ulaanbaatar, Aw bertemu dengan sekelompok guru bahasa Inggris yang membawanya ke pedalaman Altai. Ia tinggal bersama keluarga pemburu elang—orang asing pertama yang diizinkan tinggal di sana. Di sanalah ia berkenalan dengan Bekku, seorang remaja berusia 17 tahun yang memiliki ikatan luar biasa dengan elang emasnya. Awalnya canggung, hubungan mereka akhirnya terjalin melalui fotografi. Bekku sering mengajak Aw berpetualang, dan dalam perjalanan itu, Aw menemukan apa yang ia sebut “kebijaksanaan liar”.
Suatu ketika, Aw bertanya mengapa Bekku selalu memejamkan mata saat berkomunikasi dengan elangnya. “Karena bahasa hati membutuhkan keheningan,” jawab Bekku. “Saat kita memejamkan mata, kita memperkuat bisikan jiwa yang tak terdengar.” Jawaban itu menggetarkan Aw, yang selama ini hidup dalam kebisingan dunia digital. Bekku juga pernah berkata, “Elangku membimbingku ke mana pun aku pergi. Saat aku memanggilnya, aku terhubung dengan rohnya. Saat kami terbang di langit, kami terbang sebagai satu.”
Puncak perjalanan Aw terjadi saat ia menyaksikan Bekku melepaskan elangnya, sesuai tradisi pemburu elang yang tidak memelihara burung selamanya. Malam itu, Aw duduk sendirian di puncak gunung, tenggelam dalam kesedihan. Namun, saat ia menatap rasi bintang yang membentuk sayap, ia merasakan kehadiran ibunya. “Perpisahan bukanlah akhir dari cerita,” tulisnya dalam jurnal. Pengalaman itu kemudian ia lukis sebagai hadiah untuk Bekku, namun perlahan lukisan itu berubah menjadi rangkaian karya yang mengantarnya pada penyembuhan.
Proses kreatif yang berlangsung tujuh tahun itu melahirkan Our Wings As One, buku yang menurut Aw ditujukan bagi siapa pun yang pernah berjalan dalam malam panjang kehilangan. “Suka atau tidak, akan tiba saatnya kita kehilangan orang yang kita cintai. Buku ini adalah secercah cahaya untuk mereka,” katanya. Edisi Inggris diluncurkan di Festival Konten Anak Asia (AFCC) pada Mei lalu, sementara edisi Prancis, Des Ailes Pour Deux, terbit pada Maret 2026 dan dipamerkan di Galarie 65, Paris.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Aw menawarkan perspektif tentang bagaimana seni dan alam dapat menjadi medium penyembuhan. Di tengah maraknya isu kesehatan mental di perkotaan, perjalanan Aw mengingatkan bahwa kadang-kadang kita perlu menjauh dari kebisingan untuk menemukan kembali bahasa keheningan. Buku ini juga dapat menjadi referensi bagi para pendidik dan orang tua yang ingin mengenalkan konsep duka pada anak-anak melalui cerita visual yang puitis.
Saat ini, Aw tengah mengerjakan buku berikutnya yang masih bertema burung, namun dengan latar hutan tropis Amazon dan Andes. Terinspirasi oleh mitos dan pengetahuan adat, buku barunya akan menampilkan burung enggang sebagai pembawa pesan spiritual. “Saya tidak akan memecahkan mantranya,” ujarnya sambil tertawa. Pertanyaan yang tersisa: akankah karya-karya Aw selanjutnya mampu menyentuh hati pembaca di Indonesia, yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal serupa?



