Oarfish, Raksasa 11 Meter yang Hidup dari Mangsa Sekecil Kuku: Mitos Bencana Vs Fakta Ilmiah
Baca dalam 60 detik
- Oarfish, ikan bertulang terpanjang di dunia dengan panjang mencapai 11 meter, ternyata hanya memakan plankton dan krustasea kecil, bukan predator besar.
- Penampakan oarfish di berbagai belahan dunia pada 2025–2026 memicu kembali mitos 'ikan hari kiamat' yang dikaitkan dengan gempa, namun studi ilmiah membantah korelasi tersebut.
- Penelitian modern menggunakan ROV dan genomik mengungkap adaptasi unik oarfish, membuka peluang bagi riset kelautan Indonesia untuk mempelajari keanekaragaman hayati laut dalam.

Oarfish, makhluk laut dalam bertubuh ramping sepanjang 11 meter, kembali menjadi perbincangan global setelah serangkaian penampakan di pesisir berbagai negara sepanjang 2025 dan awal 2026. Ikan yang dijuluki 'naga laut' ini memicu kehebohan bukan hanya karena ukurannya yang luar biasa, melainkan juga karena mitos yang menyertainya: konon kemunculannya menandakan bencana besar. Namun, di balik aura mistis itu, sains justru menemukan kisah yang lebih menarik tentang efisiensi dan adaptasi.
Ikan bertulang paling panjang di dunia ini, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai ikan sabuk, memiliki tubuh perak berkilau dengan sirip punggung merah menyala. Meski tampak mengerikan, oarfish bukanlah predator ganas. Makanan utamanya adalah plankton, krustasea kecil, dan cumi-cumi mini—mangsa yang ukurannya tidak lebih dari kuku jari manusia. Pertanyaan bagaimana raksasa ini bertahan hidup dengan menu sekecil itu menjadi teka-teki yang mulai terpecahkan berkat penelitian anatomi dan perilaku.
Pada 2013, tim ilmuwan yang dipimpin Dr. Mark Benfield dari Louisiana State University berhasil merekam oarfish hidup di habitat aslinya menggunakan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh (ROV) di Teluk Meksiko. Rekaman itu menunjukkan oarfish berenang dengan kepala tegak lurus ke atas, mampu bergerak maju, mundur, dan ke segala arah dengan lincah. Penemuan ini mengoreksi asumsi sebelumnya yang hanya didasarkan pada bangkai yang terdampar. Kini, setelah seekor oarfish ditemukan di La Jolla Cove, California pada Agustus 2024, tim Scripps Institution of Oceanography dan NOAA Fisheries melakukan nekropsi lengkap untuk menghasilkan genom kromosom berkualitas tinggi pertama, sekaligus memeriksa kontaminan seperti mikroplastik dan DDT dalam jaringannya.
Di Jepang, oarfish disebut ryūgū no tsukai atau 'utusan dari istana dewa laut', dan dipercaya muncul menjelang gempa besar. Keyakinan ini menguat setelah beberapa oarfish terdampar sebelum gempa Tohoku 2011. Namun, studi yang dipublikasikan dalam Bulletin of the Seismological Society of America oleh Yoshiaki Orihara dari Tokai University menganalisis 336 penampakan ikan laut dalam dan 221 gempa bumi di Jepang, dan hanya menemukan satu kejadian yang bisa dianggap berkorelasi. Para peneliti menyimpulkan bahwa mitos tersebut hanyalah ilusi korelasi. Oarfish umumnya muncul ke pantai ketika sakit, sekarat, atau tersesat, bukan karena membawa pesan dari dasar laut.
Bagi Indonesia, negara kepulauan dengan kekayaan laut dalam yang masih minim dieksplorasi, fenomena oarfish menjadi pengingat akan potensi riset kelautan yang belum tergarap. Laut dalam Indonesia, yang merupakan bagian dari segitiga terumbu karang dunia, mungkin menyimpan spesies serupa yang belum teridentifikasi. Kolaborasi dengan lembaga internasional seperti Scripps atau NOAA bisa membuka peluang bagi ilmuwan Indonesia untuk mempelajari adaptasi makhluk laut dalam, termasuk mekanisme penyaringan makanan oarfish yang efisien. Struktur gill raker—sisir insang untuk menyaring mangsa—menjadi fokus penelitian yang relevan untuk pengembangan teknologi filtrasi atau biomimikri.
Oarfish bukanlah naga laut atau utusan kiamat. Ia adalah bukti bahwa evolusi mampu menciptakan raksasa yang justru mengandalkan kesabaran dan efisiensi, bukan kekuatan. Dengan setiap penampakan yang terjadi, oarfish tidak hanya mengundang decak kagum, tetapi juga pertanyaan: apa lagi yang tersembunyi di kedalaman yang belum terpetakan? Dan akankah Indonesia turut serta dalam upaya mengungkap misteri tersebut?



