Taman Safari Prigen Sukses Kembangbiakkan Harimau Sumatera, Lahirkan Tiga Anak
Baca dalam 60 detik
- Taman Safari Indonesia II Prigen memperkenalkan tiga anak harimau Sumatera yang lahir pada 23 Maret 2026, hasil perkawinan Praja dan Dini.
- Kelahiran ini menjadi langkah penting dalam konservasi harimau Sumatera yang terancam punah, mengingat spesies ini sulit berkembang biak di penangkaran.
- Keberhasilan ini memperkuat peran lembaga konservasi Indonesia dalam menjaga populasi satwa langka di tengah tekanan perburuan dan hilangnya habitat.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7830365/original/055187000_1780650323-1.jpg)
Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, resmi memperkenalkan tiga anak harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang lahir pada 23 Maret 2026. Debut publik satwa langka itu berlangsung di kandang mereka pada Kamis, 4 Juni 2026, disaksikan oleh pengunjung dan awak media. Kelahiran ini menjadi kabar baik di tengah upaya pelestarian spesies yang kritis terancam punah.
Anak-anak harimau tersebut merupakan hasil perkawinan induk betina bernama Dini (10 tahun) dan pejantan Praja. Proses reproduksi harimau Sumatera di penangkaran dikenal sangat menantang karena satwa ini memiliki selektivitas tinggi dalam memilih pasangan. Keberhasilan TSI Prigen dalam mengembangbiakkan spesies ini menandai pencapaian signifikan dalam program konservasi ex-situ di Indonesia.
Menurut catatan International Union for Conservation of Nature (IUCN), harimau Sumatera berada dalam status kritis (Critically Endangered) dengan populasi liar yang diperkirakan kurang dari 400 ekor. Ancaman utama meliputi perburuan liar, perdagangan ilegal bagian tubuh, serta deforestasi habitat di Pulau Sumatera. Oleh karena itu, setiap kelahiran di penangkaran memiliki nilai strategis untuk menjaga keragaman genetik dan mencegah kepunahan.
Bagi Indonesia, keberhasilan ini tidak hanya bernilai konservasi tetapi juga edukasi dan pariwisata. TSI Prigen selama ini menjadi salah satu destinasi wisata edukasi satwa di Jawa Timur. Dengan hadirnya anak-anak harimau, diharapkan kesadaran publik terhadap perlindungan satwa endemik semakin meningkat. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga terus mendorong lembaga konservasi untuk berperan aktif dalam program penangkaran dan reintroduksi.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan anak-anak harimau ini tumbuh sehat dan mampu bereproduksi saat dewasa. TSI Prigen diharapkan dapat terus menjalankan program pengelolaan populasi yang ketat, termasuk pemantauan kesehatan dan pengaturan perkawinan untuk menghindari inbreeding. Pertanyaan yang mengemuka: apakah langkah ini cukup untuk menyelamatkan harimau Sumatera dari ambang kepunahan, atau diperlukan kebijakan yang lebih masif di tingkat nasional dan internasional?



