Jepang Manfaatkan Aturan Substitusi Baru, Cetak Gol Saat Islandia Bermain dengan 10 Pemain
Baca dalam 60 detik
- Aturan baru Ifab mewajibkan pemain keluar lapangan dalam 10 detik; jika gagal, tim harus bermain dengan 10 pemain selama satu menit.
- Jepang memanfaatkan celah aturan tersebut saat uji coba melawan Islandia, mencetak gol kemenangan lewat Koki Ogawa pada menit ke-87.
- Pelatih Jepang Hajime Moriyasu mengingatkan pemainnya untuk disiplin dalam pergantian pemain dan memanfaatkan jeda hidrasi tiga menit secara optimal.

Jepang menjadi salah satu tim pertama yang menuai keuntungan dari aturan substitusi baru yang diterapkan International Football Association Board (Ifab) saat bersua Islandia dalam laga uji coba, Minggu (4/6). Gol semata wayang Koki Ogawa pada menit ke-87 tercipta ketika Islandia hanya diperkuat 10 pemain akibat pelanggaran aturan waktu pergantian pemain.
Berdasarkan regulasi anyar yang mulai berlaku pada Piala Dunia 2026, pemain yang akan digantikan harus meninggalkan lapangan melalui titik terdekat dalam waktu 10 detik. Jika gagal, pemain pengganti tidak boleh masuk setidaknya selama satu menit hingga terjadi penghentian permainan berikutnya. Akibatnya, tim harus bermain dengan 10 orang untuk sementara waktu.
Dalam laga yang berlangsung di Stadion Nasional Tokyo itu, Islandia terkena sanksi saat winger Isak Thorvaldsson hendak masuk. Ia tidak bisa segera merumput karena proses pergantian yang lambat. Jepang langsung memanfaatkan situasi tersebut. Ogawa, yang baru masuk sebagai pemain pengganti, menyundul umpan silang untuk memastikan kemenangan 1-0. Gol itu terjadi 1 menit 54 detik setelah Thorvaldsson dicegah masuk lapangan.
Pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, mengakui timnya hampir tidak mengalami masalah dengan aturan baru tersebut. Namun, ia tetap memperingatkan anak asuhnya agar tidak lengah. "Di bawah aturan baru, pemain tidak selalu bisa kembali ke lapangan secepat sebelumnya. Itu harus kami waspadai. Baik saat substitusi maupun momen lain, kami harus menghindari celah yang memberi peluang lawan," ujar Moriyasu dalam konferensi pers seusai pertandingan.
Moriyasu juga menyoroti pentingnya jeda hidrasi tiga menit yang diperkenalkan sebagai bagian dari perubahan aturan. Ia menilai momen tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan instruksi taktis secara singkat dan jelas. "Dalam tiga menit itu, kami harus mengatur poin-poin penting yang perlu disampaikan dan mengomunikasikannya dengan jelas kepada pemain. Saya rasa seberapa baik kami menggunakan tiga menit itu bisa berdampak besar pada hasil pertandingan," tambahnya.
Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada akan menjadi ajang pertama penerapan sejumlah perubahan aturan signifikan. Selain aturan substitusi, Ifab juga memperkenalkan batas waktu lima detik untuk lemparan ke dalam dan tendangan gawang. Jika pemain sengaja menunda, lemparan atau tendangan gawang bisa dialihkan ke lawan. Aturan lain mewajibkan pemain yang mendapat perawatan medis untuk keluar lapangan selama 60 detik, dengan pengecualian bagi kiper dan cedera serius.
Kepala wasit FIFA, Pierluigi Collina, berharap perubahan ini mampu mengurangi durasi waktu tambahan yang sempat melonjak pada Piala Dunia 2022. Namun, ia memastikan jeda hidrasi tiga menit tetap menjadi bagian tetap setiap babak. Selain itu, VAR juga akan memiliki kewenangan memeriksa keputusan tendangan sudut dan kartu kuning kedua yang berujung kartu merah.
Bagi Indonesia, aturan baru ini patut dicermati mengingat Timnas Indonesia akan berpartisipasi dalam kualifikasi Piala Dunia 2026. Disiplin dalam pergantian pemain dan manajemen waktu menjadi krusial agar tidak mengalami nasib serupa Islandia. Pelatih Shin Tae-yong perlu mempersiapkan strategi khusus untuk memanfaatkan jeda hidrasi dan menghindari pelanggaran aturan substitusi yang bisa merugikan tim.
Jepang sendiri akan memulai kampanye Piala Dunia 2026 melawan Belanda pada 14 Juni mendatang, disusul laga melawan Tunisia dan Swedia. Dengan adaptasi cepat terhadap aturan baru, Samurai Biru optimistis bisa melaju ke perempat final untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pertanyaannya, akankah tim lain belajar dari kesalahan Islandia atau justru menjadi korban berikutnya?



